Please use this identifier to cite or link to this item: http://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/116
Title: Peran Bimbingan Konseling Dalam Pengembangan Karakteristik Entrepreneur Mahasiswa
Authors: Lukito Setiawan, Jenny
Issue Date: May-2011
Publisher: Pendidikan Karakter: Perspektif Guru Dan Psikolog – 2011 – ISBN: 978-602-9047-65-3 – Penerbit Selaras
Citation: Lukito Setiawan, J. (2011). Peran bimbingan konseling dalam pengembangan karakteristik entrepreneur mahasiswa. (pp. 253-272). Sby: Selaras. Retrieved from http://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/116
Description: Data yang dikeluarkan oleh Central Intelligence A genry (The World Factbook, 2009), menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia pada 2009 mencapai kurang lebih 7,7%. Berdasarkan tingkat pendidikan, ada sekitar 22% lulusan PT yang menganggur. Lebih jauh lagi Deputi SDM dan Kebudayaan Bappenas, Nina Sardjunani, menyebutkan bahwa lulusan perguruan tinggi yang langsung bekerja hanya 10,7% (Jawa Pas, 21 Januari 2010). Hal ini menunjukkan bahwa individu yang telah mengenyam pendidikan tinggi belum tentu mendapatkan pekerjaan. Pengangguran terdidik dari hari ke hari semakin meningkat. Data dari Media Indonesia 20 Agustus 2009 (sitat dalam Huda, 2009), menunjukkan bahwa jumlah penganggur lulusan universitas pada tahun 2006 adalah sebanyak 375.600 orang, pada tahun 2007 sebanyak 409.900 orang, pada tahun 2009 sebanyak 626.600 orang. Kondisi tentu saja mengkhawatirkan karena akan semakin meningkat apabila tidak dilakukan upaya strategis menghadapi hal ini. Banyak orang berpandangan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memberikan kemudahan dalam memperoleh pekerjaan. Karena itu tidak heran jika saat ini banyak orang berlomba-lomba untuk studi lanjut, mengambil studi Sl , bahkan S2 dan S3. Namun paparan di atas menunjukkan bahwa pendidikan tinggi bukan suatu jaminan untuk memperoleh pekerjaan. Lebih-lebih dengan semakin banyaknya orang yang mendapatkan gelar S1 bahkan S2 saat ini, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan semakin ketat, Sebagian orang melihat kondisi pengangguran terdidik ini sebagai akibat ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan rill di dunia kerja. Karena itu, solusi yang ditawarkan adalah dengan memasukkan pendekatan market labour based, yaitu membuka jenis pendidikan kejuruan dan keterampilan kerja didasarkan pada analisis kebutuhan peluang-peluang kerja yang ada, dan yang diproyeksikan akan besar kebutuhannya (Koban, 2008). Namun persoalannya apabila semua lulusan tetap berorientasi pada mencari pekerjaan, tentu saja pertumbuhan jumlah lulusan tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah lapangan pekerjaan baru. Masalah pengangguran tetap tidak terelakkan.
URI: http://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/116
Appears in Collections:Lecture Papers National Published Articles

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
HIMPSI.pdf663.02 kBAdobe PDFView/Open
Full Paper.pdf5.21 MBAdobe PDFView/Open
Peer Review (2).pdf818.61 kBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.