<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>News</title>
<link href="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/6579" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/6579</id>
<updated>2026-04-17T15:44:40Z</updated>
<dc:date>2026-04-17T15:44:40Z</dc:date>
<entry>
<title>Menjadi Indonesia dalam Film Dokumenter</title>
<link href="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/7819" rel="alternate"/>
<author>
<name>Pango, Christye Dato</name>
</author>
<id>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/7819</id>
<updated>2025-01-15T08:52:33Z</updated>
<published>2025-01-10T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Menjadi Indonesia dalam Film Dokumenter
Pango, Christye Dato
</summary>
<dc:date>2025-01-10T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>CHSE, Sapta Pesona Wisata dengan Wajah Baru</title>
<link href="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/6597" rel="alternate"/>
<author>
<name>Satrya, Dewa Gede</name>
</author>
<id>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/6597</id>
<updated>2023-08-25T06:09:40Z</updated>
<published>2020-12-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">CHSE, Sapta Pesona Wisata dengan Wajah Baru
Satrya, Dewa Gede
IMPLEMENTASI CHSE (clean, health, safety and environment) atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan, bagi sektor pariwisata Indonesia seperti menemukan kembali jatidiri yang telah lama tersimpan, yakni Sapta Pesona Wisata. Mungkin selama ini nilai luhur
IMPLEMENTASI CHSE (clean, health, safety and environment) atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan, bagi sektor pariwisata Indonesia seperti menemukan kembali jatidiri yang telah lama tersimpan, yakni Sapta Pesona Wisata. Mungkin selama ini nilai luhur&#13;
&#13;
Sapta Pesona Wisata clisangsikan dan diremehkan. Atau sebaliknya, telah menjadi rutinitas yang melekat dalam keseharian. Bila itu yang terjadi maka Indonesia siap menyambut the new normal yang menjadi standar layanan prima baru umat manusia. Sapta Pesona Wisata biasanya menggema atau menjadi tema normatif tatkala menyambut masa high season, di saat liburan sekolah, libur nasional, libur keagamaan. Pada masa itu, otoritas pariwisata menyampaikan surat imbauan yang ditujukan kepada kepala daerah se-Nusantara menyikapi peningkatan kegiatan wisata pada high season. Departemen Pariwisata meminta agar kepala-kepala daerah menciptakan keamanan, kenyamanan dan ketertiban di seluruh pusat aktivitas pariwisata di masing-masing daerah, dalam bentuk kegiatan antara lain pemeriksaan kelayakan sarana dan prasarana wisata seperti akses jalan menuju objek wisata, angkutan, akomodasi, dan restoran, serta fasilitas rekreasi.&#13;
&#13;
Sapta Pesona Wisata, sebuah konsep tata nilai yang dilahirkan dan dipopulerkan mantan Menparpostel era orde baru Soesilo Soedarman (1988-1993) menjadi inti pembangunan kepariwisataan di ranah faktor manusia. Sapta Pesona Wisata yang tercliri dari keamanan, kebersihan, ketertiban, kesejukan, keindahan, keramahtamahan, serta memberikan kenangan yang mengesankan pada wisatawan merupakan elemen dasar pariwisata yang menempatkan masyarakat sebagai faktor penting dalam implementasinya (Spillane, 1987).&#13;
&#13;
Dulu masyarakat mengenal Kelompok Sadar Wisata dan merasakan pentingnya program tersebut. Program Sadar Wisata menggambarkan partisipasi dan dukungan segenap masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya kepariwisataan di suatu destinasi wilayah. Tujuan dari kegiatan ini adalah, pertama, meningkatkan pemahaman segenap komponen masyarakat untuk menjadi tuan rumah yang baik dalam mewujudkan iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya pariwisata serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kedua, menggerakkan dan memotivasi kemampuan serta kesempatan masyarakat sebagai wisatawan untuk menggali dan mencintai Tanah Air.&#13;
&#13;
Mengingat, peran serta masyarakat dalam pembangunan pariwisata semakin penting pada masa post-pandemi (the new normal), maka implementasi Sapta Pesona Wisata dirasakan sangat kontekstual dan relevan dengan kebutuhan normalisasi dan pertumbuhan kembali sektor pariwisata pascapandemi. Masyarakat sadar wisata mempunyai arti sebagai masyarakat yang mengetahui dan menyadari apa yang dikerjakan dan juga masalah-masalah yang dihadapi untuk membangun dunia pariwisata nasional. Suwantoro (1997) menyatakan, masyarakat bisa berperan alctif jika memiliki motivasi kuat, kemauan dan kemampuan untuk berperan dan diberi kesempatan untuk berperan.&#13;
&#13;
Sapta Pesona merupakan jabaran konsep Sadar Wisata, khususnya ter kait dukungan dan peran masyarakat sebagEd tuan rumah (host) dalam upaya menciptakan lingkungan dan suasana kondusif yang mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya industri pariwisata yang mengaland penegasan akan standar baru dalam hal higienitas, kebersihan dan kesehatan lingkungan, pelayanan prima dari penyedia jasa wisata yang menjamin kesehatan wisatawan.&#13;
&#13;
Uraian Sapta Pesona adalah sebagai berikut (Panduan Sadar Wisata, Depbudpar RI, 2008), pertama, aman. Menggambarkan suatu kondisi lingkungan destinasi wisata yang memberirasa tenang, bebas dari rasa takut dan kecemasan wisatawan. Dari segi daerah tujuan wisata, membuat nyaman wisatawan dalam melakukan kunjungan. Dari segi masyarakat, memiliki spontanitas dan kerelaan untuk menolong, melindungi, menjaga, memelihara, memberi dan meminimalkan risiko buruk bagi wisatawan yang berkunjung. Keamanan perlu senantiasa dikedepankan, mulai dari perjalanan menuju lokasi wisata, selama berada di tempat wisata, hingga kepulangan ke daerah asal.&#13;
&#13;
Kedua, tertib. Mencerminkan destinasi yang meniscayakan sikap disiplin, teratur dan profesional, sehingga memberi kenyamanan kunjungan wisatawan. Masyarakat ikut serta memelihara lingkungan, mewujudkan budaya antre, taat aturan, teratur, rapi dan lancar. Ketertiban pertama-tama tampak secara nyata di tempat-tempat wisata. Ketiadaan ketertiban akan mengurangi kenyamanan berwisata.&#13;
&#13;
Ketiga, bersih. Menggambarkan layanan destinasi yang mencerminkan keadaan bersih dan sehat hingga memberi rasa nyaman bagi kunjungan wisatawan. Masyarakat (wisatawan) diharapkan semakin saclar kebersihan dengan tidak asal membuang sampah/ limbah. Sampah-sampah berserakan di tempat-tempat wisata sepantasnya perlu kita minimalisir. Kebutuhan akan contacts dalam pelayanan saat ini semakin meningkat, dengan tetap mempertahankan sentuhan kemanusiaan yang menjadi ciri khas hospitality.&#13;
&#13;
             Keempat, sejuk. Destinasi wisata yang sejuk dan teduh akan memberikan perasaan nyaman dan betah bagi kunjungan wisatawan. Kelima, indah. Destinasi wisata yang mencerminkan keadaan indah menarik yang memberi rasa kagum dan kesan mendalam kepada wisatawan. Masyarakat diharapkan selalu menjaga keindahan objek dan daya tarik wisata dalam tatanan harmonis yang alami. Keenam, ramah tamah. Merupakan sikap masyarakat yang mencerminkan suasana akrab, terbuka dan menerima, sehingga wisatawan betah atas kunjungannya. Masyarakat di sekitar lokasi wisata diharapkan menjadi tuan rumah yang baik dan rela membantu wisatawan, memberi informasi tentang adat istiadat secara spontan, bersikap menghargai/toleran terhadap wisatawan yang datang, menampilkan senyum dan keramah-tamahan yang tulus. Ketujuh, kenangan. Kesan pengalaman di suatu destinasi wisata akan menyenangkan wisatawan dan membekas kenangan yang indah, sehingga mendorong pasar kunjungan wisata ulang. Saatnya pula memanfaatkan momentum wisata lebaran ini dengan menyajikan makanan/minuman khas yang unik, bersih dan sehat, serta menyediakan cenderamata yang menarik.
</summary>
<dc:date>2020-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Rawat Taman Bisa Jalan-jalan ke Singapura</title>
<link href="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/6596" rel="alternate"/>
<author>
<name>Kusumowidagdo, Astrid</name>
</author>
<id>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/6596</id>
<updated>2023-08-25T06:05:40Z</updated>
<published>2020-12-07T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Rawat Taman Bisa Jalan-jalan ke Singapura
Kusumowidagdo, Astrid
SELAMA pandemi Covid-19, banyak warga yang punya hobi baru. Merawat taman dan mengembangkan urban farming. Maka booming lah beberapa tanaman hias. Juga tanaman pangan yang ditanam memanfaatkan sudut rumah yang tersisa. Fenomena itu diapresiasi oleh Harian Disway, CitraLand, dan Universitas Ciputra dengan menggelar Garden &amp; Urban Farming Competition. Khusus bagi warga perumahan CitraLand.
SELAMA pandemi Covid-19, banyak warga yang punya hobi baru. Merawat taman dan mengembangkan urban farming. Maka booming lah beberapa tanaman hias. Juga tanaman pangan yang ditanam memanfaatkan sudut rumah yang tersisa. Fenomena itu diapresiasi oleh Harian Disway, CitraLand, dan Universitas Ciputra dengan menggelar Garden &amp; Urban Farming Competition. Khusus bagi warga perumahan CitraLand.&#13;
&#13;
Direktur Harian Disway M. Taufik Lamade mengatakan, program tersebut juga untuk menambah semangat warga CitraLand untuk mempercantik taman di rumah mereka. “Kami berharap taman-taman di rumah warga CitraLand semakin cantik dan bisa menjadi contoh bagi perumahan lain di Surabaya,” kata Taufik.&#13;
&#13;
Ada dua kategori lomba, yakni taman dan urban farming. Untuk taman, dibagi dua kriteria yakni rumah berukuran 300 meter persegi ke atas dan rumah di bawah 300 meter. “Pemenangnya akan jalan-jalan ke Singapura sekaligus belajar ke Botanic Garden,” kata pria murah senyum itu.&#13;
&#13;
Sedangkan untuk kategori urban farming, menampilkan tanaman pangan (buah atau sayur mayur) di rumah atau di tempat usaha. Disiapkan hadiah menarik dari sponsor.&#13;
&#13;
Direktur PT Ciputra Development Tbk Sutoto Yakobus menyambut baik perlombaan itu. Banyak taman di rumah-rumah warga CitraLand yang cantik. Warga CitraLand juga ia sarankan mencoba aktivitas urban farming yang sedang ngetren. “Kita bisa menanam sayur di rumah sendiri. Sayurnya bisa dikonsumsi sendiri. ini kan baik untuk kita,” ujarnya.&#13;
&#13;
Sutoto menyarankan warga CitraLand segera mendaftarkan taman maupun urban farming mereka dalam lomba tersebut. Informasi tentang lomba ini bisa diikuti di Harian Disway setiap hari. Juga melalui aku Instagram @Harian.Disway dan website http://harian.disway.id.&#13;
&#13;
Untuk mengikuti lomba tersebut, peserta hanya perlu membuat video singkat taman atau urban farming mereka sekitar 30 detik. Bila warga kesulitan membuat video, bisa meminta bantuan panitia.&#13;
&#13;
Tim juri akan menilai taman dan urban farming dari video pendek itu. Dari penilaian itu akan diambil 30 taman dan urban farming terbaik. Barulah tim juri akan meninjau taman adan urban farming 30 nominator.&#13;
&#13;
Ada tiga juri yang akan memberi penilaian. Pertama, Rani Prihatmanti, dosen interior architecture Universitas Ciputra. Saat ini ia sedang studi lanjut S3 di Universiti Sains Malaysia tentang ethnobotany, urban farming, high-rise greenery dan biofacade. Kedua, Maria Wardhani, lulusan S2 Cultural Landscape Architecture di Jean Monnet Universite, Prancis. Dan juri ketiga dari tim landscape CitraLand. (Tomy C. GutomoAndre Bakhtiar)
</summary>
<dc:date>2020-12-07T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Si Kecil Tampil Cantik saat Natal</title>
<link href="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/6595" rel="alternate"/>
<author>
<name>Yuwono, Olivia</name>
</author>
<id>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/6595</id>
<updated>2023-08-25T05:56:46Z</updated>
<published>2020-12-09T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Si Kecil Tampil Cantik saat Natal
Yuwono, Olivia
SURABAYA, SURYA – Pandemi Covid-19 tidak menghalangi si kecil tampil cantic saat merayakan Natal. Desainer Olivia Yuwono mewujudkan keelokan itu melalui busana dengan tema White Christmas.
SURABAYA, SURYA – Pandemi Covid-19 tidak menghalangi si kecil tampil cantic saat merayakan Natal. Desainer Olivia Yuwono mewujudkan keelokan itu melalui busana dengan tema White Christmas.&#13;
&#13;
Pemilik brand Queeney itu ingin menampilkan konsep simple dan elegan. Meski sedang dalam suasana pandemic, perayaan Natal tetap berwarna dan berlangsung hangat.&#13;
&#13;
“Jadi, akan lebih banyak perayaan Natala di rumah bersama keluarga. Biar tak monoton , maka dipercantik dengan busana-busana ini,” terang Olivia, Selasa(8/12).&#13;
&#13;
Busana karyanya fokus untuk anak-anak sehingga Olivia tidak memilih bahan sembarangan. Lulusan IBM Universitas Ciputra Surabaya ini sengaja memilih bahan nyaman dan dapat menyerap keringat.&#13;
&#13;
“Kulit anak-anak ini kan lebih sensitive ketimbang orang dewasa. Kalau bahan kainnya nggak pilihan, takut mereka nggak nyaman memakainya,”imbuhnya.&#13;
&#13;
Setiap baju yang di buat, selalu dilapisi furing dari kain katun. Selain nyaman, kain model ini mampu menyerap keringat karena tingkah anak-anak yang aktif.&#13;
&#13;
Tak hanya nyaman, hasil yang elegan dipertegas melalui detail bead dan brokat di bagian depan hingga belakang busana. Olivia menggnakan jenis brokat santili yang dikenal lebih halus dari lainnya.&#13;
&#13;
Tak ketinngalan tile dan organsa. Olivia mempersembahkan karyanya untuk anak usia 1 hingga 8 tahun, tapi tidak menutup kemungkinan membuka kostum bagi siapapun yang ingin tampil cantik saat Natal.&#13;
&#13;
“Boleh juga moms yang ingin tampil kembar dengan putrinya. Kami menerima kostum untuk itu. Selain untuk Natal, busana ini didesain untuk sesi foto bersama, tutupnya (kir)
</summary>
<dc:date>2020-12-09T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
