<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>KARYA ILMIAH</title>
<link href="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/7576" rel="alternate"/>
<subtitle>Karya Ilmiah</subtitle>
<id>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/7576</id>
<updated>2026-04-17T15:44:57Z</updated>
<dc:date>2026-04-17T15:44:57Z</dc:date>
<entry>
<title>Hubungan usia reproduktif lanjut dengan penurunan kualitas oosit</title>
<link href="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/7843" rel="alternate"/>
<author>
<name>Tjiptohardjo, Andianto Indrawan</name>
</author>
<id>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/7843</id>
<updated>2025-02-03T23:12:53Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hubungan usia reproduktif lanjut dengan penurunan kualitas oosit
Tjiptohardjo, Andianto Indrawan
Akhir-akhir ini ada tren global peningkatan jumlah wanita hamil usia reproduktif lanjut yang disebabkan oleh penundaan pasangan untuk memiliki anak. Fertilitas wanita merupakan salah satu aspek yang terpengaruh dengan penambahan usia. Kapasitas reproduksi wanita memuncak pada usia 25 tahun, menurun sedikit pada usia 32 tahun dan mulai menurun dengan cepat saat usia 37 tahun. Oosit ini merupakan sel yang kompleks dan memiliki banyak organel dan molekul, semua komponen di dalam oosit ini harus baik agar oosit ini dapat berkembang dan melangsungkan perkembangan embrio yang baik. Bila ada gangguan ataupun kelainan pada organel atau komponen dari oosit, dapat menyebabkan gangguan perkembangan ataupun kelainan pada kualitas embrio.  &#13;
&#13;
Mitokondria merupakan suatu organel dalam sel yang memiliki tugas utama untuk menghasilkan energi. Karakteristik khusus dari mitokondria yang membedakan dengan organel lain adalah mitokondria memiliki komponen genetik berupa DNA mitokondria (mtDNA). Fungsi utama mtDNA ini adalah replikasi ataupun sintesis beberapa protein yang digunakan untuk respirasi seluler di fosforilasi oksidatif. Jumlah mtDNA berhubungan dengan jumlah mitokondria pada suatu sel.  &#13;
&#13;
Pada beberapa penelitian sebelumnya, didapatkan hubungan linier positif antara penurunan jumlah mtDNA dengan bertambahnya usia. Diketahui juga angka terjadinya keguguran dan juga aneuploidi yang meningkat seiring dengan usia saat hamil. Mitokondria pada oosit ini sangat krusial pada proses meiosis ( maturasi nukleus dan sitoplasma) saat folikulogenesis, fertilisasi dan juga fase embrionik awal. Tulisan ini membahas peranan mitokondria, secara spesifik mitokondria DNA (mtDNA) dan hubungannya dengan usia reproduktif lanjut dalam aspek reproduksi.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Tatalaksana Jamur Kuku Terkini</title>
<link href="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/7825" rel="alternate"/>
<author>
<name>Nurhadi, Stefani</name>
</author>
<author>
<name>Tantana, Olivia</name>
</author>
<author>
<name>Santoso, Novian Budi</name>
</author>
<id>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/7825</id>
<updated>2025-01-31T16:42:16Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Tatalaksana Jamur Kuku Terkini
Nurhadi, Stefani; Tantana, Olivia; Santoso, Novian Budi
Tinea unguium, atau dermatophytic onychomycosis, merupakan infeksi jamur pada kuku yang disebabkan oleh dermatofita seperti Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes. Penyakit ini memiliki prevalensi yang tinggi di seluruh dunia, terutama pada populasi usia lanjut, individu dengan sistem imun yang lemah, serta mereka yang menggunakan alas kaki tertutup secara terus-menerus. Patogenesis melibatkan invasi jamur ke jaringan keratin melalui produksi enzim keratinase dan molekul mannans yang menghambat respon imun. Diagnosis klinis sering kali memerlukan konfirmasi mikroskopik dan kultur karena gejalanya dapat menyerupai kondisi lain seperti psoriasis kuku, dermatitis kontak, atau kandidiasis.&#13;
Gambaran klinis tinea unguium mencakup beberapa tipe, termasuk onikomikosis subungual distal-lateral (OSDL), proksimal, superfisial, endoniks, dan total distrofik. Penatalaksanaan mencakup terapi topikal menggunakan agen seperti amorolfine dan ciclopirox, serta terapi sistemik seperti terbinafin atau itrakonazol. Dalam kasus tertentu, tindakan bedah dapat dipertimbangkan untuk mengangkat kuku yang terinfeksi. Prognosis bergantung pada deteksi dini, usia pasien, dan kesehatan umum individu, dengan pengobatan sering kali membutuhkan durasi panjang. Artikel ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai epidemiologi, patogenesis, diagnosis, dan pengobatan tinea unguium guna mendukung pengelolaan penyakit yang efektif.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Peningkatan Kepatuhan Hand Hygiene melalui Edukasi Berbasis Evidence-Based Practice pada Mahasiswa Kedokteran sebagai Upaya Pencegahan Transmisi Infeksi</title>
<link href="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/7784" rel="alternate"/>
<author>
<name>effendy, Lyndia</name>
</author>
<author>
<name>Hadi, Siusanto</name>
</author>
<author>
<name>Ferdinandus, Pieter David Adriaan</name>
</author>
<author>
<name>Tandean, Victor Setiawan</name>
</author>
<author>
<name>Sasono, Bimo</name>
</author>
<author>
<name>Prijatna, Irwin</name>
</author>
<id>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/7784</id>
<updated>2025-01-13T11:12:48Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Peningkatan Kepatuhan Hand Hygiene melalui Edukasi Berbasis Evidence-Based Practice pada Mahasiswa Kedokteran sebagai Upaya Pencegahan Transmisi Infeksi
effendy, Lyndia; Hadi, Siusanto; Ferdinandus, Pieter David Adriaan; Tandean, Victor Setiawan; Sasono, Bimo; Prijatna, Irwin
Hand hygiene dan teknik sterilisasi adalah dua langkah mendasar yang sangat penting dalam mencegah transmisi mikroorganisme, seperti bakteri, virus, jamur, dan spora, di fasilitas kesehatan. Praktik mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer telah terbukti efektif mengurangi mikroorganisme pada tangan, sementara teknik sterilisasi seperti autoclave memastikan eliminasi total mikroorganisme pada peralatan medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas hand hygiene dalam mengurangi mikroorganisme pada tangan serta menilai efisiensi sterilisasi dengan autoclave dalam menghilangkan biakan mikroorganisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi mikroorganisme hingga 95–100%, sedangkan penggunaan hand sanitizer menunjukkan penurunan sebesar 90–95%. Di sisi lain, sterilisasi menggunakan autoclave berhasil menghilangkan mikroorganisme secara total pada beberapa sampel. Kombinasi praktik hand hygiene yang benar dan penerapan teknik sterilisasi yang efektif sangat penting dalam memutus rantai penularan infeksi dan meningkatkan keselamatan pasien. Edukasi mengenai hand hygiene dan teknik sterilisasi yang benar bagi mahasiswa kedokteran berperan penting dalam membangun sikap profesional, meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur pencegahan infeksi, serta menjamin keselamatan pasien. Implementasi pembelajaran berbasis bukti dapat memperkuat pemahaman dan komitmen mahasiswa terhadap pentingnya praktik ini dalam dunia medis
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Karya Ilmiah Dampak Positif Gaya Hidup Aktif Moderat Pada Komunitas Lakarsantri</title>
<link href="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/7577" rel="alternate"/>
<author>
<name>Effendy, Lyndia</name>
</author>
<author>
<name>Kusumah, Irwin Prijatna</name>
</author>
<author>
<name>Hadi, Susanto</name>
</author>
<author>
<name>Susaniwati</name>
</author>
<author>
<name>Wijaya, Wilson Gani</name>
</author>
<id>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/7577</id>
<updated>2024-08-07T12:44:52Z</updated>
<published>2024-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Karya Ilmiah Dampak Positif Gaya Hidup Aktif Moderat Pada Komunitas Lakarsantri
Effendy, Lyndia; Kusumah, Irwin Prijatna; Hadi, Susanto; Susaniwati; Wijaya, Wilson Gani
</summary>
<dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
