<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/598">
<title>Psikologi</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/598</link>
<description>Psikologi</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9013"/>
<rdf:li rdf:resource="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9010"/>
<rdf:li rdf:resource="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9008"/>
<rdf:li rdf:resource="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9007"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-05T20:11:58Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9013">
<title>HUBUNGAN ANTARA INTIMASI SEKSUAL DAN WAKTU LUANG BERSAMA DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA PERAWAT</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9013</link>
<description>HUBUNGAN ANTARA INTIMASI SEKSUAL DAN WAKTU LUANG BERSAMA DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA PERAWAT
Tanjaya, Jessica Pauline
Menjadi perawat adalah pekerjaan yang menekan dan memiliki resiko yang tinggi (Sarafino, 2008). Selain adanya shift kerja yang berubah setiap bulannya, masalah lain yang bisa timbul adalah masalah dalam pernikahannya. Grosswald (2004) menyatakan bahwa seseorang yang bekerja dalam shift memiliki kepuasan pernikahan yang lebih rendah dibandingkan seseorang yang tidak bek erja dalam shift . Padahal Burgess dan Locke (dalam Habibi, 2015) menyatakan kepuasan pernikahan merupakan salah satu dari enam kriteria penentu keberhasilan pernikahan. Tujuan penelitian ini adalah memeriksa hubungan antara intimasi seksual dan waktu luang bersama dengan kepuasan pernikahan pada perawat. Sampel dalam penel itian ini adalah 225 perawat (61.1% wanita, 38.9% pria ). Data dikumpulkan dengan menggunakan skala intimasi seksual (Cordova, 2009), skala waktu luang bersama (Kurniawan &amp; Setiawan, 2016), dan skala kepuasan pernikahan (Grable &amp; Bitt, 2006). Hasil uji korelasi ganda menunjukkan ada hubungan positif dan signifikan antara intimasi seksual dan waktu luang bersama dengan kepuasan pernikahan (R=0, 666 ; &lt;0,05). Hasil uji korelasi parsial menunj ukkan ada hubungan positif dan signifikan antara intimasi seksual dan kepuasan pernikahan dengan mengendalikan waktu luang bersama (r=0, 259 ; &lt;0,05). Hasil uji korelasi parsial menunjukkan ada hubungan positif dan signifikan antara waktu luang bersama da n kepuasan pernikahan dengan mengendalikan intimasi seksual (r=0, 537 ; &lt;0,05). Dapat disimpulkan bahwa intimasi seksual dan waktu luang bersama memiliki hubungan yang lebih kuat ketika mereka bekerja bersama - sama.
Being nurse is not easy (Sarafino, 2008). Besides their work shift schedules are different every month, another problem than can arise is a problem in their marital life. Grosswald (2004) through his research states that a person who worked in shifts have lower marital satisfaction than those who does not work in shifts. On the contrary, Burgess and Locke (in Habibi, 2015) states that marital satisfaction is one of the six criterias that determine the success of a marriage. This study is aims to determine t he correlation between sexual in timacy and joint leisure time with marital satisfaction among nurses. Samples of this research are 22 5 nurses (61.1% women, 38.9% men) . Data were collected using scale of sexual intimacy (modification Cordova, 2009) , scale o f joint leisure time (Kurniawan &amp; Setiawan, 2016), and scale of marital satisfaction (Grable &amp; Bitt, 2006). The result of multiple correlational test shows that there is significant positive relationship between sexual intimacy and leisure time together wi th marital satisfaction (R=0, 666 ; &lt; 0,05). Partial correlation test result showed there is a significant positive relationship between sexual intimacy and marital satisfaction by controlling leisure time together (r=0, 259 ; &lt; 0,05). Partial correlatio n test result showed there is a significant positive relationship between leisure time together with marital satisfaction by controlling sexual intimacy (r=0, 537 ; &lt; 0,05). It is concluded that sexual intimacy and joint leisure time had stronger correlat ion to marital satisfaction when working together.
</description>
<dc:date>2016-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9010">
<title>HUBUNGAN ANTARA RELASI FINANSIAL DAN KOMUNIKASI DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA SUAMI ATAU ISTRI DENGAN USIA PERNIKAHAN DI BAWAH LIMA TAHUN</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9010</link>
<description>HUBUNGAN ANTARA RELASI FINANSIAL DAN KOMUNIKASI DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA SUAMI ATAU ISTRI DENGAN USIA PERNIKAHAN DI BAWAH LIMA TAHUN
Mahardika, I Kadek Aditya
Fase penyesuaian antara suami dan istri menimbulkan kerentanan akan ketidakharmonisan. Ketidakharmonisan pernikahan disebabkan oleh ketidakpuasan pernikahan. Ketidakpuasan pernikahan diduga juga terkait dengan relasi finansial dan komunikasi pada pasangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara relasi finansial dan komunikasi dengan kepuasan pernikahan pada suami atau istri dengan usia pernikahan di bawah lima tahun. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala relasi finansial (Kurniawan &amp; Setiawan , 2016), skala komunikasi PREPARE/ENRICH customized version ( Olson &amp; Larson , 20 08), dan The Kansas Marital Satisfaction Scale (Grable &amp; Britt, 2006). Penelitian ini dilakukan kepada 89 orang subjek yang terdiri dari 25 subjek suami (28.1%) dan 64 subjek istri (71.9%) yang menikah dengan usia pernikahan di bawah lima tahun. Analisis data menggunakan uji korelasi ganda dan uji korelasi parsial. Penelitian ini memiliki tiga hasil. Pertama, h asil uji korelasi ganda menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara rel asi finansial dan komunikasi secara bersama - sama dengan kepuasan pernikahan pada suami atau istri dengan usia pernikahan di bawah lima tahun (R=0.662, ρ &lt; 0.05). Sumbangan e fektif relasi finansial dan komunikasi secara bersama - sama terhadap kepuasan pernik ahan sebesar 43,8%. Kedua, h asil uji korelasi parsial menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara relasi finansial dan kepuasan pernikahan dengan mengendalikan komunikasi pada suami atau istri dengan usia pernikahan di bawah lima tahun (r =0.351, ρ &lt; 0.05). Ketiga, h asil uji korelasi parsial menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antara komunikasi dan kepuasan pernikahan dengan mengendalikan relasi finansial pada suami atau istri dengan usia pernikahan di bawah lima tahun (r=0.330 , ρ &lt; 0.05). Kombinasi variabel relasi finansial dan komunikasi berdampak lebih besar pada kepuasan pernikahan
A djustment phase between husband and wife may lead to vulnerability towards disharmony. Marriage disharmony is caused by unsatisfactory marriage. Diss atisfaction in marriage is also allegedly linked to the financial relationships and communication in married couple . This study aims to determine th e relationship between financial relationships and communication with marital satisfaction as husband and wife, with a marriage under the age of five years. This study uses a quantitative method with a correlation design. Data was collected usin g a scale o f financial relation (Kurniawan &amp; Setiawan , 2016), the scale of the communication PREPARE/ENRICH customized version ( Olson &amp; Larson , 2008) , and The Kansas Marital Satisfaction Scale (Grable &amp; Britt, 20 06). This study was conducted among 89 subjects consisted of 25 husband s (28.1%) and 64 wiv e s (71.9%) in marriage under the age of five years. Analysis of data using multiple correlation test and partial correlation test. There are three results of analysis in this study. First, t he multipl e correlation test results showed there was significant relationship between financial relations and communications toget her with marital satisfaction on husband s and wiv e s with a marriage under the age of five years (R = 0 . 662, ρ &lt;0.05). The effective con tribution of financial relations and communication together towards the marital satisfaction reached 43.8%. Second, the partial correlation test results showed there was significant positive corre lation between financial relationships and marital satisfact ion by controlling communic ation on husband s and wiv e s with a marriage under the age of five years (r = 0.351, ρ &lt;0.05). Third, results showed no significant positive corre lation between communication and marital satisfaction by controlling the financial r elationship as husband and wife with a marriage under the age of five years (r = 0.330, ρ &lt;0.05). The combination of financial relations and communication variables size impact on marital satisfaction.
</description>
<dc:date>2016-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9008">
<title>HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI DAN RESOLUSI KONFLIK DENGAN RELASI FINANSIAL PADA SUAMI ATAU ISTRI DENGAN USIA PERNIKAHAN 10 TAHUN KE BAWAH</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9008</link>
<description>HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI DAN RESOLUSI KONFLIK DENGAN RELASI FINANSIAL PADA SUAMI ATAU ISTRI DENGAN USIA PERNIKAHAN 10 TAHUN KE BAWAH
Florencia
Konflik terkait finansial ditemukan lebih bertahan lama, lebih menegangkan, dan cenderung untuk terjadi berulang kali dibandingkan dengan konflik lain dalam sebuah pernikahan. Oleh karena itu, relasi finansial dengan pasangan sangat penting dalam sebuah pernikahan yang bahagia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi dan resolusi konflik dengan relasi finansial pada suami atau istri dengan usia pernikahan 10 tahun ke bawah. Responden dari penelitian korelasional ini te rdiri atas 55 istri dan 6 suami dari 4 sekolah yang berbeda di Surabaya. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling . Skala yang digunakan untuk mengukur komunikasi dan resolusi konflik di adaptasi dari Olson &amp; Larson (2008) sedangkan skala u ntuk mengukur relasi finansial di kembangkan oleh Kurniawan &amp; Setiawan (2016) yang mengacu pada Olson et al. (2008) dan Marriage Checkup oleh Cordova (2009). Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara komunikasi dan resolu si konflik dengan relasi finansial pada suami atau istri dengan usia pernikahan 10 tahun ke bawah (R = 713; ρ &lt; 0.05) dan (R square = 0.509). Hasil juga menunjukkan ada hubungan positif dan signifikan antara komunikasi dan relasi finansial dengan mengontro l resolusi konflik (r = 600; ρ &lt; 0.05), namun tidak ada hubungan antara resolusi konflik dan relasi finansial dengan mengontrol komunikasi (r = - 0.01; ρ &gt; 0.05).
Conflicts related to financial issues are found to be more lasting, more tensed, and tends to repeat when compared to other areas of conflicts in marriage. Hence, financial relationship with a spouse is highly important in a happy marriage. This study aims to find the correlat ion between communication and conflict resolution with financial relationship among husbands or wives in a marriage of 10 years and below. Respondents of this correlational study consists of 55 wives and 6 husbands from 4 different schools in Surabaya. The technique sampling used is accidental sampling. The scale to measure communication and conflict resolution are both adapted by Olson &amp; Larson (2008) while scale to measure financial relationsh ip is developed by Kurniawan &amp; Setiawan (2016) which is adapted from Cordova’s Marriage Checkup. Results show that there is a positive and significant correlation between communication and conflict resolution with financial relationship among husbands or wives in a marriage of 10 years and below (R= 713; P &lt; 0.05) and (R square = 0.509). Results also suggest a positive and significant correlation between communication and financial relationship by controlling conflict resolution ( (r = 600; ρ &lt; 0.05), but no correlation between conflict resolution and financial relation ship by controlling communication (r = - 0.01; ρ &gt; 0.05)
</description>
<dc:date>2016-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9007">
<title>HUBUNGAN ANTARA WAKTU LUANG BERSAMA DAN KOMUNIKASI DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA SOPIR TAKS</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9007</link>
<description>HUBUNGAN ANTARA WAKTU LUANG BERSAMA DAN KOMUNIKASI DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA SOPIR TAKS
Rhenardo, Clara Alverina
Sopir taksi merupakan salah satu pekerjaan berbahaya yang memiliki kemung kinan 60 kali lebih besar mengalami kecelakaan kerja dalam pekerjaannya dibandingkan pekerjaan lainnya (NIOSH, dalam OSHA, 2000). Sopir taksi menghabiskan waktunya untuk bekerja, mulai dari subuh hingga larut malam dengan target setoran setiap harinya. Akibatnya, sopir taksi dapat mengalami stres dalam pekerjaannya. McDonough dan Stewart (2010) menemukan 53.4% sopir taksi mengalami stres kerja. Selain itu, Bodenmann et al. (2007) menemukan bahwa akumulasi dari stres dapat menimbulkan masalah dalam pernikahan. Salah satu kriteria keberhasilan pernikahan adalah kepuasan pernikahan (Burgess &amp; Locke, dalam Ardhianita &amp; Andayani, 2005). Bodenman (dalam Bodenmann et al., 2007) me lakukan studi longitudinal tentang penyebab perceraian. Hasil studinya ditemukan penyebab perceraian adalah rendahnya waktu luang bersama dan rendahnya kualitas komunikasi. Maka dari itu, peneliti menduga sopir taksi yang memiliki tingkat stress kerja yang tinggi harus memiliki jumlah waktu luang bersama pasangan yang tinggi dan kualitas komunikasi yang baik untuk menjamin kepuasan pernikahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara waktu luang bersama dan komunikasi dengan kepuasan per nikahan pada sopir taksi. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling insidental . Subjek dalam penelitian ini adalah 87 sopir taksi di perusahaan X Surabaya. Pengambilan dat a menggunakan skala yang terdiri dari skala waktu luang bersama (Kurniawan &amp; Setiawan, 2016), skala komunikasi (Olson &amp; Larson, 2008), dan skala kepuasan pernikahan (Grable &amp; Britt, 2006). Hasil uji korelasi ganda menunjukkan adanya hubungan positif antara waktu luang bersama dan komunikasi dengan kepuasan pernikahan (R = 0.673; ρ &lt; 0.05). Hasil uji korelasi parsial menunjukkan (1) ada hubungan antara waktu luang bersama dan kepuasan pernikahan dengan mengendalikan komunikasi (r = 0.497; ρ &lt; 0.05), dan (2) ada hubungan antara komunikasi dan kepuasan pernikahan dengan mengendalikan waktu luang bersama (r = 0.441; ρ &lt; 0.05). Berdasarkan ketiga hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa waktu luang bersama dan komunikasi bersama - sama meningkatkan kepuasan pernikahan lebih baik (R 2 = 45.2%). Selain itu, kontribusi waktu luang bersama (R 2 = 32%) lebih besar dibandingkan komunikasi (R 2 = 13.2%).
Taxi driver has one of the possibility of hazardous work which 60 times more likely to experience workplace accidents on the job than other jobs (NIOSH, in OSHA, 2000). Taxi driver spent nearly whole day to work, from dawn until late at night with a tight target every day. As a result, taxi driver could experiences work stress. Mc Donough and Stewart (2010) found 53.4% taxi drivers experiences work stress. Other than that, Bodenmann et al. (2007) found that the accumulation of stress could causes marriage p roblems. One of the criteria for marital fruitfulness is marital satisfaction (Burgess &amp; Locke, in Ardhianita &amp; Andayani, 2005). Bodenmann (in Bodenmann et al., 2007) carried out a longitudinal study about the causes of divorce. It was found that low joint leisure time and low quality of communication are significantly causing divorce. Therefore, it can be acknowledged that taxi drivers with high level of stress at work need to have an amount of joint leisure time and good quality of communication in order to ensure their marital satisfaction. This study aims to determine the relationship between joint leisure time, as well as communication, and marital satisfaction in taxi driver . Quantitative method is used with correlational design. Incidental sampling i s used in technique sampling. The subjects included in this study are 87 taxi driver in company X Surabaya. Instruments used in this study are time together scale (Kurniawan &amp; Setiawan, 2016), communication scale (Olson &amp; Larson, 2008) , and marital satisfa ction scale (Grable &amp; Britt, 2006) . The result of multiple correlation test shows that there is positive relationship between time together and communication altogether with marital satisfaction (R = 0.673; ρ &lt; 0.05). The result of partial correlation test shows that (1) there is relationship between time together and marital satisfaction by controlling communication (r = 0.497; ρ &lt; 0.05), and (2) there is relationship between communication and marital satisfaction by controlling time together (r = 0.441; ρ &lt; 0.05). Based on the above results it can be concluded that time together and communication joint together makes higher marital satisfaction (R 2 = 45.2%). In addition, time together (R 2 = 32%) correlated better with marital satisfaction compared to commu nication (R 2 = 13.2%).
</description>
<dc:date>2016-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
