<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Bisnis Desain Fashion</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/1644</link>
<description>Bisnis Desain Fashion</description>
<pubDate>Sun, 05 Apr 2026 16:59:56 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-05T16:59:56Z</dc:date>
<item>
<title>Pemanfaatan Limbah Ban Sebagai Leather Alternative untuk Tas Unisex</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/8776</link>
<description>Pemanfaatan Limbah Ban Sebagai Leather Alternative untuk Tas Unisex
Habel, Jennifer
Pembangunan industri di Indonesia sekarang sedang berkembang sangat pesat, seiring dengan pertumbuhan bisnis digital khususnya di bidang transportasi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bisnis transportasi berbasis digital seperti Gojek, Grab, Anterin, Bonceng Driver, dan berbagai aplikasi transportasi online lainnya. Pertumbuhan tersebut menyebabkan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia naik 12,36% dari tahun 2017 sampai 2019(Badan Pusat Statistik). Hal ini memberikan dampak jumlah limbah ban di Indonesia terus bertambah karena demand untuk produksi ban meningkat. Ban terbuat dari campuran bahan karet dan plastik yang menyebabkan ban sangat susah diuraikan secara alami dan menyebabkan limbahnya hanya dibuang ke laut tanpa diproses, yang kemudian dapat menyebabkan polusi air dan membahayakan kelangsungan biota laut. Karena masalah tersebut, maka brand Habl merancang tas unisex dengan bahan limbah ban dalam yang akan di upcycle, dan dikombinasikan dengan material dan elemen lain untuk menambah nilai jual. Ban dalam biasanya dibuang meskipun hanya rusak sedikit seperti lubang kecil, yang kemudian menimbun di tempat pembuangan sampah dan akhirnya dibuang ke laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplor pemanfaatan ban dalam bekas sebagai alternatif dari kulit hewan untuk dijadikan produk fashion yaitu tas. Mengingat besarnya dampak kulit asli terhadap lingkungan sekitar karena proses pengolahannya yaitu tanning, dimana membutuhkan banyak air dan berbagai macam bahan kimia yang dapat mempengaruhi efisiensi instalasi pengolahan limbah, dan ketidakseimbangan ekologis. Penyusunan tugas akhir ini menggunakan metode penelitian primer yaitu kualitatif dan kuantitatif, juga penelitian sekunder yang diperoleh melalui studi literatur seperti buku, jurnal, artikel, video, website, atau internet yang relevan sebagai referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ban dalam bekas dapat diolah menjadi berbagai bentuk produk tas yang durable dengan style techwear, dan meskipun di Indonesia tren techwear baru muncul, brand Habl dapat menggunakan kemunculan tren ini untuk mulai meluaskan penggunaan produk hasil upcycle ban dalam bekas dengan style techwear dalam fashion sehari-hari(Dixit et al., 2015).
Industrial development in Indonesia is growing very rapidly, along with the growth of digital transportation businesses. This is shown by the amount of digital-based transportation businesses such as Gojek, Grab, Anterin, Bonceng Driver, and many other online transportation applications. This growth has led to an increase in the number of motor vehicles. According to a data from the Central Bureau of Statistics, the number of motor vehicles in Indonesia increased by 12.36% from 2017 to 2019 (Central Bureau of Statistics). This has a direct impact to the amount of tire waste in Indonesia as it continues to grow, because the demand for tire production is increasing. Tires are made from a mixture of rubber and plastic which makes tires very difficult to decompose naturally and causes the waste to be dumped into the sea without being processed, which can then cause water pollution and endanger the marine life. Because of these problems, Habl designed a unisex bag with inner tube waste that would be upcycled, then combined with other materials and elements to add value to the sale. The inner tube is usually disposed of even if it only has a little fault for example, a small hole, which then piles up in landfill and then dumped into the sea. The purpose of this study is to explore the use of inner tube waste as an alternative to leather to be used as fashion products, especially bags. Considering the large impact of genuine leather on the surrounding environment due to the process to prepare it, especially tanning, requires a lot of water and various chemicals that can have an effect the efficiency of sewage treatment plants, and cause ecological imbalances. The creation of this final project uses primary research methods, which are qualitative and quantitative, as well as secondary research that is obtained through literature studies such as books, journals, articles, videos, websites, or from the internet as references. The results show that inner tube watse can be made into various styles of durable bags with a techwear style, and although in Indonesia techwear as a trend has just emerged, Habl can use the rise of this trend to start expanding the use of products made from upcycled inner tube waste with a techwear style in everyday fashion (Dixit et al., 2015).
</description>
<pubDate>Fri, 01 Jan 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/8776</guid>
<dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Implementasi Bahan Jamu Sebagai Pewarna Alami dan Motif pada Media Kain untuk Perancangan Ready To Wear Wanita</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/8775</link>
<description>Implementasi Bahan Jamu Sebagai Pewarna Alami dan Motif pada Media Kain untuk Perancangan Ready To Wear Wanita
Pujiastuti, Pujiastuti
Pewarna alam, sebagai komponen penting dalam industri tekstil, semakin mendapatkan perhatian karena sifatnya yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi potensi pemanfaatan bahan jamu sebagai pewarna alam dan elemen motif pada media kain. Bahan jamu, yang kaya akan kandungan alami, diidentifikasi sebagai sumber potensial untuk menghasilkan pewarna alam yang ramah lingkungan dan kaya akan nilai budaya.&#13;
&#13;
Penelitian ini melibatkan proses ekstrasi pigmen dari berbagai bahan jamu tradisional, seperti daun, bunga, rimpang dan akar yang kemudian diaplikasikan pada kain dengang menggunakan teknik pewarnaan kain tradisional sperti batik. Selain itu, eksperimen juga dilakukan untuk mengintegrasikan motif-motif tradisional yang terinspirasi dari bahan jamu ke dalam desain kain.&#13;
&#13;
Analisis estetika dan kestabilan warna dari hasil pewarnaan alam ini dieksplorasi, dengan mempertimbangkan, dengan mempertimbangkan dampak lingkungan dan potensi penerimaan pasar. Selain itu, penelitian ini mengidentifikasi hubungan antara penggunaan motif berbasis jamu dengan kespresi budaya dan nilai-nilai tradisional.&#13;
&#13;
Hasil penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang potensi pemanfaatan bahan jamu dalam industri tektil, menggabungkan kekayaan budaya lokal dengan inovasi dalam desain kain. Pemanfaatan pewarna alam dan motif berbasis jamu diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan industri tekstil yang berkelanjutan dan memperkuat identitas budaya lokal. Penelitian ini juga merangsang kesadaran akan pentingnya budaya melalui media tekstil. Salah satu cara yaitu membuat koleksi busana wanita dengan gaya ready-to-wear. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data kualitatif yang diperoleh dari 7 expert panel dan 12 extreme user, mencari data pendukung seperti jurnal, buku, maupun karya ilmiah lainnya.
Natural dyes, as a crucial component in the textile industry, are gaining increasing attention due to their environmentally friendly nature. This research aims to explore the potential utilization if jamu ingredients as natural compounds, are identified as a potential source to produce environmentally friendly natural dyes that are culturally significant.&#13;
&#13;
This study involves the extraction of pigments from various traditional jamu ingredients, such as leaves, flowers, rhizomes, and roots, which are then applied to fabric using traditional textile dyeing techniques such as batik. Additionally, experiments are conducted to integrate traditional motifs inspired by jamu ingredients into fabric designs.&#13;
&#13;
Aesthetic and colour stability analyses of the natural dyeing results are explored, considering environmental impact and potential market acceptance. Furthermore, the research identifies the relationship between the use of jamu based motifs and the expression of cultural identify and traditional values.&#13;
&#13;
The findings of this research provide deep insight inti the potential utilization of jamu ingredients in the textile industry, combining local richness with innovation in fabric design. The use of natural dyes and jamu based motifs is expected to positively contribute to the development of sustainable textile industries and reinforce local cultural identity. This research also raises awareness of the importance of culture through textile media. One approach to achieve this is by creating a ready-to-wear women’s fashion collection. The study employs qualitative data collection techniques obtained from 7 expert panels and 12 extreme users, supplemented with supporting data from journals, books, and other scholarly works.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jan 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/8775</guid>
<dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Perancangan Ready-To-Wear Deluxe dengan konsep Gender Fluid dan Inspirasi Epos La Galigo</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/8771</link>
<description>Perancangan Ready-To-Wear Deluxe dengan konsep Gender Fluid dan Inspirasi Epos La Galigo
Jursito, Tesalonika Louise
Epos La Galigo ialah salah satu budaya Indonesia yang terkenal dimana berasal dari suku Bugis. Selain itu Epos La Galigo diakui oleh UNESCO menjadi salah satu Epos terpanjang yang pernah ada. Epos La Galigo menjadi salah satu karya yang unik sehingga untuk melestarikannya dilakukan kolaborasi dalam bentuk fashion khususnya menggunakan busana ready - to - wear deluxe. Fashion yang begitu luas dan tidak terbatas pada umur, gender, ras, dan sebagainya membuatnya mampu menjadi media pelestarian dan pengenalan kepada dunia internasional apa yang dimaksud dengan Epos La Galigo. Dengan demikian dapat dirumuskan dalam penulisan ini bahwa bagaimana merancang busana ready - to - wear deluxe dengan konsep gender fluid dan dengan inspirasi dari Epos La Galigo. Tujuan penelitian ini ialah untuk menciptakan desain fashion busana ready - to - wear deluxe dengan menggunakan konsep gender fluid dan dengan inspirasi Epos La Galigo. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yakni data primer dan data sekunder. Data primer yang didapat melalui proses wawancara kepada 6 orang expert (2 orang stylist, 1 orang fashion designer, 1 orang textile designer, 1 orang graphic designer, dan 1 orang fashion business owner) dan 13 orang expert user. Kemudian data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dengan berdasarkan studi literatur dari buku, jurnal, artikel serta website maupun media sosial yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan konsep sangat fresh dan unik sebab membahas tentang Epos La Galigo yang masih jarang diketahui khalayak umum. Selain itu ilustrasi design yang dibuat sudah tergolong bagus dan telah sesuai karena mampu menceritakan tentang Epos La Galigo. Berdasarkan apa yang telah diungkapkan narasumber dalam data primer hampir seluruh narasumber menyatakan bahwa busana ready - to - wear deluxe dengan konsep gender fluid cocok jika memilih Epos La Galigo sebagai inpirasi utama dalam penciptaannya.
Epos La Galigo is one of the famous Indonesian cultures which comes from the Bugis ethnic. Beside that, Epos La Galigo is recognized by UNESCO as one of the longest epics ever. Epos La Galigo has a uniqueness characteristic, so in order to maintain Epos La Galigo is to do a collaboration into fashion especially using ready - to - wear deluxe. Fashion is broad and not limited to gender, age, race, and so on makes it capable of being a preservation and introduction media to the international world what is meant by Epos La Galigo. Thus, it can be formulated in this research that how to design ready-to-wear deluxe clothing with the concept of gender fluid and with Epos La Galigo color on it. The purpose of this research is to create a ready-to-wear deluxe fashion design using the concept of gender fluid and with Epos La Galigo color on it. The research was conducted using qualitative methods. The data used in this study is divided in two types, namely primary data and secondary data. Primary data obtained through the interview process to 6 experts (2 stylists, 1 fashion designer, 1 textile designer, 1 graphic designer, and 1 fashion business owner) and 13 expert users. Then the secondary data in this study was obtained based on literature studies from relevant books, journals, articles and websites and social media. Epos results showed that the concept selection was very fresh and unique because it discussed Epos La Galigo which is still rarely known to the general public. In addition, the design illustrations made are quite good and appropriate because they are able to tell about Epos La Galigo. Based on what the informants have revealed in the primary data, almost all of the informants stated that ready-to-wear deluxe clothing with a gender fluid concept is suitable if they choose Epos La Galigo as the main inspiration in their creation.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Jan 2022 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/8771</guid>
<dc:date>2022-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Perancangan Ready to Wear Deluxe Wanita dengan Inspirasi dari Ludruk dan Tari Remo Menggunakan Teknik Grafir Laser dan Sashiko pada Kain Denim</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/8770</link>
<description>Perancangan Ready to Wear Deluxe Wanita dengan Inspirasi dari Ludruk dan Tari Remo Menggunakan Teknik Grafir Laser dan Sashiko pada Kain Denim
Setiabudi, Michella
Ludruk merupakan salah satu kesenian yang berasal dari Jawa Timur sekitar tahun 1922 yang dipentaskan oleh dua orang, yaitu satu pemain yang bercerita lucu dan seorang waria (wanita-pria) berdasarkan penelitian Peacock (1968: 28). Tari Remo melekat dengan Ludruk sebagai tari penyambutan tamu pada tradisi pertunjukan di Jawa Timur (Rakasiwi et al., 2015). Tari Remo sering juga dibawakan secara terpisah sebagai sambutan, seperti sambutan tamu kenegaraan, upacara kenegaraan, festival kesenian daerah, maupun acara-acara penting perusahaan kenegaraan. Seiring berjalannya waktu perkembangan tren fashion terus berputar secara gaya, material, dan detail. Namun kain denim yang tidak lekang oleh waktu. Denim merupakan material yang popular digunakan sejak dulu hingga sekarang. Penggunaan teknik grafir laser pada kain denim masih jarang dilakukan. Teknik grafir laser adalah teknik membentuk suatu bentuk yang diinginkan dengan ukiran emboss pada material. Grafir laser ini biasanya digunakan untuk kayu, akrilik, logam dan kulit dengan menggunakan program software khusus untuk menjalankan mesin laser. Teknik Sashiko adalah teknik surface design tradisional Jepang yang berarti “tusukan kecil” pada sebuah kain. Sashiko banyak diaplikasikan sebagai faktor pendukung pengembangan desain. Metode yang digunakan adalah metode Design Thinking dan metode pendekatan kualitatif deskriptif untuk menguatkan penelitian perancangan kepada beberapa narasumber dengan ketertarikan terhadap fashion dan kesenian budaya Jawa Timur yang dikembangkan khususnya Surabaya serta terhadap ahli dan narasumber mengenai perancangan busana wanita Ready-to-Wear Deluxe dengan material utama kain denim dan teknik grafir laser. Tujuan utama pengangkatan pengembangan motif yang terinspirasi budaya Jawa Timur ini menjadi sebuah produk busana wanita Ready-to-Wear Deluxe sebagai salah satu dorongan untuk memperkenalkan budaya Jawa Timur khususnya Surabaya agar lebih dikenal oleh masyarakat melalui desain koleksi modern dengan sentuhan kultural.
Ludruk is one of the arts originating from East Java around 1922 which was staged by two people, namely one player who told a funny story and a waria (woman-male) based on Peacock's research (1968: 28). Remo dance is attached to Ludruk as a dance to welcome guests in the performance tradition in East Java (Rakasiwi et al., 2015). Remo dance is often performed separately as a welcome, such as a welcome for state guests, state ceremonies, regional arts festivals, as well as important state company events. Over time the development of fashion trends continues to revolve around style, material, and detail. But denim fabric is timeless. Denim is a popular material used from the past until now. The use of laser engraving techniques on denim fabrics is still rarely done. The laser engraving technique is a technique of forming the desired shape by embossed engraving on the material. These laser engravings are typically used for wood, acrylic, metal, and leather using special software programs to run the laser machine. The Sashiko technique is a traditional Japanese surface design technique that means "little prick" on a cloth. Sashiko is widely applied as a supporting factor for design development. The method used is the Design Thinking method and descriptive qualitative approach method to strengthen design research to several resource persons with an interest in East Javanese fashion and cultural arts developed especially in Surabaya as well as to experts and resource persons regarding the design of women's clothing Ready-to-Wear Deluxe with materials major in denim fabrics and laser engraving techniques. The main purpose of adopting the development of motifs inspired by East Javanese culture into a Ready-to-Wear Deluxe women's clothing product is one of the impetus to introduce East Javanese culture, especially Surabaya so that it is better known by the public through modern collection designs with a cultural touch.
</description>
<pubDate>Sat, 01 Jan 2022 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/8770</guid>
<dc:date>2022-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
