<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Media</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/3839</link>
<description/>
<pubDate>Fri, 17 Apr 2026 09:57:47 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-17T09:57:47Z</dc:date>
<item>
<title>Pabrik Sabun Legendaris Sejak 1923 di Jalan Samdura Surabaya Tutup, Bangunan Tua Kini Mangkrak</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9353</link>
<description>Pabrik Sabun Legendaris Sejak 1923 di Jalan Samdura Surabaya Tutup, Bangunan Tua Kini Mangkrak
Kartika, Chrisyandi Tri
RADAR SURABAYA - Bangunan pabrik sabun batangan milik CV Samudra Mas di Jalan Samudra Nomor 39, Surabaya, terlihat sepi pada Kamis, 26 Februari 2026. Pabrik sabun legendaris yang telah berdiri sejak 1923 pada masa kolonial Belanda itu akhirnya gulung tikar setelah lama tidak beroperasi. “Pabrik sabun sudah lama tutup. Sudah lama tidak ada aktivitas,” kata Suprapto, warga yang tinggal tak jauh dari lokasi pabrik sabun lawas tersebut. Menurut Suprapto, tanda-tanda penutupan pabrik model industri rumahan itu sudah terlihat sejak 2025. Penutupan diawali dengan pengurangan karyawan hingga akhirnya benar-benar berhenti beroperasi. “Sayang sekali karena pabrik ini sudah ada sejak zaman Belanda dan sabun produksinya cukup laris untuk pasar luar pulau (Jawa),” ujarnya. Sabun batangan yang diproduksi CV Samudra Mas menggunakan mereka Prahu Layar. Yang menarik, meski diproduksi di Surabaya, sabun ini justru tidak dipasarkan di Surabaya atau Jawa Timur, tapi sangat populer di kawasan Indonesia bagian Timur. Koordinator komunitas Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL), Chrisyandi Tri Kartika, sebelumnya menyebut sabun batangandi Jalan Samudra itu tergolong langka dan legendaris karena bisa bertahan selama satu abad lebih. Padahal, banyak pabrik sejenis yang sudah lama gulung tikar. “Berdasar catatan yang ada, pabrik sabun batangan ini sudah ada sejak tahun 1923. Artinya, pabrik ini sudah berusia satu abad, tepatnya 102 tahun,” kata Chrisyandi. Merujuk buku telepon lama miliknya, pabrik tersebut dahulu menempati persil atas nama Tuan Djoe Gwan di Bakmistraat nomor 39. Di lokasi itu kemudian berdiri papan nama CV Samudra Mas sebagai perusahaan sabun rumahan. Seorang karyawan yang telah bekerja lebih dari 50 tahun menyebut pabrik sempat bertahan karena permintaan pasar luar pulau. “Permintaan pasar di luar pulau memang banyak,” ujarnya. (*)
</description>
<pubDate>Thu, 26 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9353</guid>
<dc:date>2026-02-26T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Plaza Surabaya Dulu Lokasi RS Pertama di Surabaya</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9352</link>
<description>Plaza Surabaya Dulu Lokasi RS Pertama di Surabaya
Kartika, Chrisyandi Tri
PERNAH dengar nggak rek, rumah sakit (RS) pertama di Surabaya? Ada yang bilang RS pertama di Kota Pahlawan itu adalah RS Simpang yang letaknya di Jalan Pemuda atau Jalan Simpang. Kini bangunannya sudah berubah menjadi sebuah mal, apakah benar begitu? Rupanya, cerita dari orang tua kita mengisahkan kalau sekarang RS Simpang menjadi mal pertama di pusat kota itu bukan sekadar cerita rakyat belaka. Itu dibenarkan oleh ahli sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Adrian Perkasa. Menurut Adrian, sebelum bernama RS Simpang, RS ini bernama Centraal Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ). Agak susah ya mengejanya, akan tetapi memang menurut sejarah nama ini adalah nama RS pertama yang berdiri di Surabaya. “Nama itu artinya pusat kesehatan warga. Letaknya ya di Delta Plaza situ,” kata Adrian. Bicara soal RS menang agak merinding mendengarnya, pasti terkesan seram dan timbul pikiran aneh-aneh. Tapi tenang, sekarang sudah menjadi mal yang ramai dan hilang dari kesan tersebut. Di samping itu, Pemerhati sejarah sekaligus pustakawan Universitas Ciputra (UC) Surabaya Chrisyandi Tri Kartika berpendapat lain. Jika ditelisik dari buku karya Von Faber, sebenarnya zaman dulu ada RS pertama yang dibangun kemudian dihancurkan sebelum ada RS Simpang. Chrisyandi menuturkan perkataan J.F Van Reede Tot de Parkeler dalam buku itu, kondisi RS pertama di Surabaya kondisnya sangat buruk dan tidak sehat. Oleh sebab itu, lantas bangunan RS dihancurkan. “Untuk nama dan lokasinya tidak diketahui. Dibongkarnya sekitar 14 Juli 1808, karena kondisinya yang kurang layak dan juga dikarenakan akan dibangun RS baru. Tidak lain RS Simpang,” urainya. (gin/nur/jay)
</description>
<pubDate>Sun, 26 Sep 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9352</guid>
<dc:date>2021-09-26T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Sejarah Perkembangan Industri di Surabaya (2): Peran Frans Jacob Hubert Bayer dalam Industrialisasi di Surabaya Utara</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9351</link>
<description>Sejarah Perkembangan Industri di Surabaya (2): Peran Frans Jacob Hubert Bayer dalam Industrialisasi di Surabaya Utara
Kartika, Chrisyandi Tri
MAJU PESAT: Salah satu gedung pabrik di Surabaya Utara dan Frans Jacob Hubert Bayer (insert) salah satu pendiri industri di Kota Pahlawan.&#13;
 	Perkembangan industri di Surabaya di mulai dari kawasan utara. Yaitu dari kawasan Jembatan Merah sampai ke pelabuhan. Di lokasi tersebut banyak ditemui gedung-gedung perdagangan dan pabrik. Pustakawan Sejarawan Universitas Ciputra Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, awal perkembangan industri di Surabaya di mulai dari sisi utara. Dari munculnya bengkel konstruksi oleh orang Jawa disingkat sebagai bengkel sehingga muncul industri swasta. Bengkel konstruksi terutama harus melakukan aktivitasnya bagi negara dan segera muncul waktu ketika lembaga ini tidak lagi menerima pekerjaan dari swasta. Ketika para tukang Eropa memahami apa yang dikerjakan di bengkel itu, ada sesuatu yang bisa didapat. Satu persatu, para pekerja minta berhenti dan mengelola sendiri usahanya. Misalnya bengkel besi dan pembuatan ketel milik Bayer, Remmert dan Willems.&#13;
Seorang perintis di bidang industri swasta, seseorang yang berusaha untuk bekerja keras dari seorang buruh menjadi "raja besi Surabaya" dan menjadi pemilik lembaga industri adalah Frans Jacob Hubert Bayer. “Bayer, yang setelah kematiannya namanya masih dikenang selama bertahun-tahun, adalah seorang pandai besi,” kata Chrisyandi. Menurutnya, Bayer pada mulanya bekerja pada pemerintah dan ditempatkan di bengkel konstruksi negara. Ketika pada bulan September 1841, dia atas permohonannya dia mengundurkan diri dari bidang kerjanya, dia menduduki fungsi sebagai ahli peralatan. Pada tahun yang sama dia mendirikan pabrik peralatan uap F.J.H. Bayer, untuk membuat dan memperbaiki peralatan. Pabrik ini yang kemudian dikenal dengan nama "De Phoenix". Karena kesulitan sementara yang dialami pendirinya, menurut keputusan tanggal 4 April 1844 dibeli oleh pemerintah seharga 100 ribu gulden. Tetapi Bayer tetap menjadi pimpinannya. (bersambung/nur)
</description>
<pubDate>Fri, 07 Jun 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9351</guid>
<dc:date>2024-06-07T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kawasan Perniagaan Surabaya Menggeliat Sejak Abad ke 18</title>
<link>https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9350</link>
<description>Kawasan Perniagaan Surabaya Menggeliat Sejak Abad ke 18
Kartika, Chrisyandi Tri
SURABAYA - Pertumbuhan kawasan perniagaan di Surabaya dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk yang melakukan urbanisasi ke Surabaya. Mereka mencari pekerjaan sebagai pelayan, pekerja harian dan sebagainya. "Di samping orang Eropa dan pribumi. Orang-orang asal Tiongkok juga golongan ketiga yang penting di Surabaya saat itu. Jika merujuk pada referensi buku perkembangan kota Surabaya," kata Pustakawan Sejarah Chrisyandi Tri Kartika. Di antara tanah-tanah yang ada termasuk yang masih tersisa. Ia mencontohkan, seperti di kawasan Pegirian maupun Kapasan atau di kawasan Surabaya Utara, baik di pinggiran maupun di pinggir jalan. Di situlah orang-orang pribumi dan Tiongkok mendirikan perumahan dan tempat usaha. Chrisyandi menceritakan, awalnya orang Tionghoa ini mendiami suatu daerah yang berada di sebelah timur Kalimas, hingga di sekitar Jembatan Merah. Daerah itu merupakan Chinese Kamp jika dilihat dari peta Surabaya tahun 1866. Dengan pola pembangunan yang memanjang di kawasan tersebut merupakan ciri khas model kawasan di Kota Surabaya. Pertumbahan ini menjadi masalah dalam kota. Sehingga penduduk asli Surabaya makin lama makin terdesak. Seperti di kawasan Srengganan, di bagian luar difungsikan untuk perniagaan sedangkan yang dalam untuk perkampungan. Sedangkan banyak orang Eropa yang mengambil tanah luas dan membangun rumah-rumah yang besar, kantor dan toko-toko. Mereka berlomba-lomba membeli tanah, baik di tengah kota di pinggiran maupun dekat di persimpangan jalan. Meskipun saat itu ada larangan bagi warga Eropa. "Jadi mereka hidup di kampung-kampung," pungkasnya. (rmt/nur)
</description>
<pubDate>Thu, 20 Jan 2022 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9350</guid>
<dc:date>2022-01-20T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
