| dc.contributor.author | Dewi, Aditya Yuliantina | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-14T13:25:25Z | |
| dc.date.available | 2026-02-14T13:25:25Z | |
| dc.date.issued | 2023 | |
| dc.identifier.uri | https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9151 | |
| dc.description | Indonesian culture is a national identity that guides people’s behavior to develop and passed on from generation to generation. The culture that can be inherited are religion, languages, building forms, clothes, arts, dan certain philosophies. As time progresses, Indonesian cultures gradually fades due to the Western culture that looks more modern and the lack of people awareness of inherited cultural values. In the architecture, the effort that can contribute to preserve culture, especially for the rising generation is apply cultural values to architecture design. This action is a very big opportunity for architect because the designs not only invites people to get to know and preserve culture but also produces a design that can be different form other architectural designs. To preserve cultural values on architecture design, architect can approach the Sense of Place concept. Therefore, the architect consultant Luh Aditya Architect was created with the main concept Sense of Place Tri Hita Karana – Tri Loka that combined with local regional culture. This concept aims to preserve cultural philosophies (can be habits, cultural meanings, etc) into designs that create harmony with God, people, and the environment. The project design that can applied with this concept is a museum and Balinese traditional dance studio. This project aims to enhance and preserve Balinese traditional dance and music to local people and foreigners. This project is a foundation of Luh Aditya Architect for exploring 1 of many cultures in Indonesia before we explore other cultures. The design must be able to impress the Balinese culture but not seem old-fashioned and monotouns. Therefore, the preparation to create the project use 2 methods, quantitative and qualitative methods. The quantitative method is collecting datas, market research, surveys, and document reviews. The qualitative method is site analysis, the opportunities and potential that can be used to create the architecture design concept solutions that be able to convey Balinese cultural values in a modern and instragramable way so it can attract people, especially the rising generation. | en_US |
| dc.description.abstract | Budaya merupakan faktor identitas negara yang menjadi panduan perilaku masyarakat untuk berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Hal yang diwariskan bisa dalam bentuk adat istiadat, agama, politik, bahasa, bangunan, pakaian, seni, dan filosofi tertentu. Semakin berkembangnya zaman, budaya Indonesia lambat laun memudar akibat masuknya budaya Barat yang terlihat lebih modern dan kurangnya kesadaran masyarakat akan nilai - nilai budaya yang sudah diwariskan. Dalam ranah arsitektur, hal yang dapat dilakukan untuk ikut berkontribusi dalam melestarikan budaya, khususnya kepada generasi muda adalah dengan menerapkan nilai - nilai budaya ke dalam desain bangunan. Hal ini sangat berpeluang besar bagi arsitek karena adanya penerapan budaya ke dalam desain bukan hanya mengajak masyarakat kembali mengenal dan melestarikan budaya, namun juga menghasilkan ciri khas desain tersendiri dan berbeda dibanding desain arsitek lainnya. Salah satu cara untuk menerapkan hal ini adalah dengan menggunakan pendekatan konsep Sense of Place filosofi budaya daerah ke dalam desain bangunan. Oleh karena itu, terciptalah konsultan arsitek Luh Aditya Architect dengan pendekatan konsep utama Sense of Place budaya Tri Hita Karana-Tri Loka yang digabungkan dengan budaya daerah setempat. Pendekatan ini memiliki arti untuk melestarikan filosofi budaya (adat istiadat, kebiasaan, makna budaya) ke dalam bentuk desain yang tak lepas dari terciptanya keharmonisan dengan Tuhan, sesama, maupun lingkungan. Rancangan proyek yang akan dibuat untuk mengaplikasikan konsep Sense of Place budaya ini adalah museum dan sanggar tari Bali dimana pembuatan desain bertujuan untuk meningkatkan dan melestarikan budaya tari dan musik Bali kepada masyarakat lokal maupun mancanegara. Proyek ini juga menjadi tumpuan awal untuk mengeksplorasi budaya salah 1 daerah sebelum nantinya akan mengeksplorasi budaya dari seluruh daerah Indonesia. Eksplorasi pendekatan konsep Sense of Place budaya dalam proyek ini memiliki tantangan besar untuk menarik perhatian masyarakat, terutama generasi muda Indonesia. Desain harus dapat menyampaikan kesan budaya khas Bali namun tidak terkesan kuno dan monoton. Oleh karena itu metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif dilakukan dengan pengumpulan data, riset pasar saat ini, survei dan review dokumen. Metode kualitatif yang dilakukan adalah analisis lahan, peluang, dan potensi untuk menghasilkan solusi konsep desain yang tepat untuk dapat menyampaikan budaya tari dan musik Bali yang dikemas modern dan instagramable agar dapat menarik perhatian semua kalangan masyarakat, terutama generasi muda. | en_US |
| dc.language.iso | id | en_US |
| dc.publisher | Universitas Ciputra | en_US |
| dc.subject | Sense of Place | en_US |
| dc.subject | Luh Aditya Architect | en_US |
| dc.subject | Melestarikan Budaya | en_US |
| dc.subject | Tri Hita Karana – Tri Loka | en_US |
| dc.subject | Museum dan Sanggar Tari Bali | en_US |
| dc.subject | Preserves Culture | en_US |
| dc.subject | Luh Aditya Architect | en_US |
| dc.subject | Museum and Balinese Traditional Dance Studio | en_US |
| dc.title | Perancangan Proyek Museum dan Sanggar Tari Bali dengan Pendekatan Sense of Place oleh Konsultan Luh Aditya Architect | en_US |
| dc.type | Thesis | en_US |
| dc.identifier.kodeprodi | 23201 | |
| dc.identifier.nim | 0206031910046 | |
| dc.identifier.dosenpembimbing | Christina Eviutami Mediastika | |