| dc.contributor.author | WIJAYA, THEO SAKTI | |
| dc.date.accessioned | 2021-03-09T03:33:02Z | |
| dc.date.available | 2021-03-09T03:33:02Z | |
| dc.date.issued | 2010 | |
| dc.identifier.uri | http://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/3239 | |
| dc.description | Different from European & American people who love to sit on high chairs
with body fit seated, Indonesian people prefer more variating sitting postures such as
lesehan on the floor, sitting on a wide seated chair, or with narrower ones.
As an example, Javanese people have flexible and relaxing sitting culture
and using wide seated chair, like wooden amben or lincak made from bamboo. Some
prefer to sit on smaller wooden dingklik. And there is a tradition to sit by lesehan on
tikar or floor.
In Indonesia, people love to do lesehan whether in home, small kiosk, even
restaurant with lesehan facilities, or when people gather around to socialize with each
other. It happens because of Indonesian’s sitting culture which does not recognize any
chair at first. Seating facilities were brought into Indonesia by western culture later.
These days, traditional houses which still use lesehan choose another
alternative furnitures such as divan (seating facilities which have same height as any
conventional chairs, but it has wider seating area to accommodate a lot of people, and
the user can lift or cross their feet when sitting on this facility. Other than divan,
lesehan facility also has legless chair which is commonly popular to the japanese.
But, the reason that makes this type of furnitures less attractive is because the
traditional and old designs which make middle up economic classes take less attention
to these products. Beside that, because commonly known lesehan furnitures available
are big sized like divan from java, many lesehan lovers have to think twice before buy
it because the lack of spaces or because those furnitures can not fit to enter their room.
Although there are so many lesehan users and lovers out there, there is
almost no shop or counter who sell lesehan facilities. This problem was detected
when observing furniture retailers who have competitive potentials such as INDEX,
VINOTI, VIVERE, VL BRIO, CELLINI, and MELANDAS.
Because of this, the designer wants to change people’s mindset who think
that lesehan is just for low economy classes by presenting it with contemporary
design style and geometric, modular shape into this new lesehan product so this
product can be use by higher economy classes and can be placed in any kind of room. | en_US |
| dc.description.abstract | Berbeda dengan cara duduk masyarakat Eropa dan Amerika yang senang
kursi tinggi dengan lebar dudukan yang pas pada tubuh, masyarakat di Nusantara
lebih menyukai beragam cara duduk: lesehan di lantai, duduk di tempat dengan
permukaan lebar, atau duduk di bidang lebih sempit.
Masyarakat di Jawa, misalnya, punya budaya duduk yang santai dan masih
leluasa bergerak pada bangku besar, seperti amben dari kayu atau lincak dari bambu.
Ada yang lebih memilih untuk duduk di atas dingklik dari kayu lebih kecil. Ada juga
tradisi duduk lesehan di atas tikar atau lantai.
Di Indonesia, cara duduk lesehan cukup populer untuk dilakukan baik di
rumah, di warung atau restoran yang ada fasilitas lesehan, atau saat berkumpul
bersama. Hal ini disebabkan oleh budaya duduk masyarakat Indonesia yang awalnya
tidak mengenal kursi. Fasilitas kursi kemudian diperkenalkan oleh budaya barat.
Saat ini, di rumah – rumah tradisional yang masih menggunakan lesehan
memilih alternatif lain yaitu dengan menggunakan divan yaitu fasilitas duduk yang
memiliki tinggi sama dengan kursi pada umumnya, hanya memiliki bidang duduk
yang luas sehingga dapat menampung banyak orang, dan penggunanya dapat
mengangkat kaki pada saat duduk. Selain divan, fasilitas duduk lesehan juga
memiliki kursi tanpa kaki yang populer pada masyarakat Jepang pada umumnya.
Namun yang menyebabkan jenis mebel ini kurang diminati masyarakat umum adalah
karena desain-nya yang selalu tradisional ataupun kuno sehingga masyarakat
menengah ke atas kurang menaruh minat kepada produk tersebut. Selain itu, karena
pada umumnya furnitur lesehan yang tersedia berukuran besar seperti divan dari jawa,
banyak pecinta lesehan yang mengurungkan niat untuk membelinya karena
keterbatasan lahan ataupun furnitur tersebut tidak dapat masuk ke dalam ruangan.
Walaupun banyak sekali pelaku dan peminat budaya duduk lesehan, namun
di pasaran Hampir tidak ada toko yang memenuhi kebutuhan fasilitas lesehan ini. Hal
ini disadari pada saat melakukan kunjungan dan survey ke toko – toko mebel yang
memiliki potensi sebagai pesaing seperti INDEX, Vinoti, Vivere, VL Brio, Cellini,
Melandas.
Karena itu, desainer ingin mengubah pandangan masyarakat yang
menganggap duduk lesehan hanya untuk kaum menengah ke bawah dengan
menampilkan gaya desain dan bentuk modular geometris yang kontemporer pada
produk lesehan ini sehingga dapat digunakan oleh kalangan yang lebih tinggi
tingkatnya dan dapat diletakkan di ruangan apapun. | en_US |
| dc.language.iso | id | en_US |
| dc.publisher | Universitas Ciputra Surabaya | en_US |
| dc.subject | DESIGNING | en_US |
| dc.title | PERANCANGAN FURNITUR LESEHAN MODULAR DENGAN GAYA DESAIN KONTEMPORER | en_US |
| dc.type | Thesis | en_US |
| dc.identifier.nidn | 0717015601 | |
| dc.identifier.kodeprodi | 23201 | |
| dc.identifier.nim | 20206030 | |
| dc.identifier.dosenpembimbing | FREDDY HANDOKO ISTANTO | |