| dc.contributor.author | Christine, Aurielle Nathanya | |
| dc.date.accessioned | 2025-11-24T08:54:20Z | |
| dc.date.available | 2025-11-24T08:54:20Z | |
| dc.date.issued | 2023 | |
| dc.identifier.uri | https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/8687 | |
| dc.description | Discrimination against feminine men is not something that is called foreign in Indonesia because there is a patriarchal culture that is still often found which gives different expectations to women and men. Feminine men in Indonesia often receive discriminatory treatment by society for violating gender norms. This made clothing less available to the group. Therefore, the writer wants to create a collection of romantic style genderfluid clothing using free-motion embroidery application. Apart from adding aesthetic value to collections, this free-motion embroidery is also used to increase public awareness of gender-based issues in Indonesia. This design focuses on being a medium for the group to express themselves and as a means of campaigning to raise public awareness about this issue. The design aims at the target market of men and women at the age of 20-35 years who have an interest in fashion and want to express themselves. The method used is a qualitative method consisting of primary data and secondary data. Primary data in the form of sources taken in this design totaling 18 informants consisting of 6 experts and 12 extreme users, analyzing design concepts, trends and personal preferences of the informants, and secondary data using literature studies. The design method uses the design thinking method. The design collection with a romantic genderfluid style concept produces clothes with I, T and A silhouettes with a total of four tops, one jacket, one vest, three corsets, five bottoms and one overskirt. | en_US |
| dc.description.abstract | Diskriminasi terhadap pria feminin bukanlah hal yang disebut asing di Indonesia dikarenakan adanya budaya patriarki yang masih sering ditemui yang memberikan ekspektasi yang berbeda-beda terhadap perempuan dan laki-laki. Pria-pria feminin di Indonesia seringkali mendapatkan perlakuan diskriminatif oleh masyarakat karena melanggar norma gender. Hal ini membuat kurang tersedianya pakaian bagi kelompok tersebut. Maka dari itu, penulis ingin membuat sebuah koleksi pakaian genderfluid gaya romantic dengan aplikasi free-motion embroidery. Selain untuk menambahkan nilai estetika pada koleksi, free-motion embroidery ini juga digunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai permasalahan berbasis gender yang ada di Indonesia. Perancangan ini berfokus untuk menjadi media bagi kelompok tersebut untuk mengekspresikan diri dan sebagai sarana kampanye untuk mingkatkan kesadaran masyarakat mengenai permasalahan ini. Perancangan bertujuan pada target pasar pria dan wanita pada usia 20-35 tahun yang memiliki ketertarikan di bidang fesyen dan ingin untuk mengekspresikan diri. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif yang terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer berupa narasumber yang diambil dalam perancangan ini berjumlah 18 informan terdiri 6 experts dan 12 extreme users, melakukan analisa mengenai konsep desain, tren, dan preferensi personal para narasumber, dan data sekunder menggunakan studi literatur. Metode perancngan menggunakan metode design thinking. Koleksi desain berkonsep romatic gaya genderfluid menghasilkan pakaian dengan siluet I, T, dan A dengan total empat atasan, satu jas, satu vest, tiga korset, lima bawahan, dan satu overskirt. | en_US |
| dc.language.iso | id | en_US |
| dc.publisher | Universitas Ciputra | en_US |
| dc.subject | Teknik Bordir | en_US |
| dc.subject | Busana Pesta | en_US |
| dc.subject | free-motion embroidery | en_US |
| dc.subject | genderfluid | en_US |
| dc.subject | Occasion wear | en_US |
| dc.title | Perancangan Occasion Wear Genderfluid Style dengan Aplikasi Free Motion Embroidery | en_US |
| dc.type | Thesis | en_US |
| dc.identifier.kodeprodi | 90234 | |
| dc.identifier.nim | 0206061910001 | |