| dc.contributor.author | Raynald, Daniella Sharren | |
| dc.date.accessioned | 2025-12-05T05:46:58Z | |
| dc.date.available | 2025-12-05T05:46:58Z | |
| dc.date.issued | 2022 | |
| dc.identifier.uri | https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/8723 | |
| dc.description | Marriage is one of the most important moments and is considered an activity in life. As a sacred activity, the bride and groom make various preparations carefully, one of the most important things is the wedding dress. In bridal clothing, decoration is needed to add value to the dress because the bride needs to be designed to be more special than other common clothes. Ornaments have various functions, namely aesthetic, technically constructive, and also symbolic. Sometimes, the bride and groom only use decorations based on aesthetic values, while the meaning or symbolism of these decorations is not paid attention to. This can be seen in the younger generation of Indonesia who are not familiar with Indonesian decorative culture so Indonesian cultural patterns are rarely used as decorations on wedding dresses. Meanwhile, Indonesia has various decorative motifs with good meanings and philosophies for weddings, one of which is the Chinese Peranakan batik. Nevertheless, the Peranakan batik craft began to fade due to the entry of Western culture and the lack of introduction to Peranakan batik to Indonesia so Peranakan batik began to be abandoned in this global era. Besides having batik influenced by foreign cultures, Indonesia also has its batik motifs that have good meaning for the bride and groom, including Truntum batik and Grompol batik. In addition to decorative batik motifs, Indonesia also has a cultural heritage in the form of decorative embroidery. One of the typical types of Indonesian embroidery that needs to be disclosed is the design of the embroidery because there are still many people who do not know about the embroidery of the design. Therefore, this design discusses the design of a wedding dress that combines modern style with Indonesian culture, namely the Chinese Peranakan batik motif which is distilled with Truntum and Grompol batik, which is applied through decorative designs as a solution to the existing issues. This design is carried out using a qualitative method where the sources as primary data are divided into two, namely expert panels and extreme users. Secondary data is obtained from literature in the form of books, journals, articles, websites, and other social media. The design stage uses the design thinking method, namely VALS theory on the experienced target market of women by appearing different and innovative. In this design collection, it is a wedding dress with a simple cut with the characteristic of embroidered designs with Peranakan batik motifs. The purpose of this collection is to introduce and increase the interest of the younger generation in Chinese Peranakan batik motifs and embroidered designs through a collection of wedding dresses with modern nuances that can be worn by the younger generation. | en_US |
| dc.description.abstract | Pernikahan merupakan salah satu fase terpenting dan dianggap sebagai kegiatan yang sakral dalam kehidupan. Sebagai suatu kegiatan yang sakral, maka calon pengantin melakukan berbagai persiapan dengan matang, salah satu hal yang paling krusial adalah busana pengantin. Pada busana pengantin, diperlukan ragam hias guna menambah nilai busana karena busana pengantin perlu dirancang lebih istimewa dibandingkan busana-busana umum lainnya. Ragam hias memiliki berbagai fungsi yaitu sebagai estetis, teknis konstruktif, dan juga simbolis. Seringkali, calon pengantin hanya menggunakan ragam hias berdasarkan nilai estetis saja, sedangkan makna atau simbolis dari ragam hias tersebut kurang diperhatikan. Hal ini dapat dilihat dari generasi muda Indonesia yang kurang mengenal budaya ragam hias Indonesia, sehingga corak budaya Indonesia jarang dikenakan sebagai ragam hias pada busana pengantin. Sedangkan, Indonesia memiliki berbagai motif ragam hias dengan makna dan filosifi yang baik bagi pernikahan, salah satunya batik Peranakan Tionghoa. Meskipun demikian, kerajinan batik Peranakan mulai luntur akibat masuknya budaya Barat dan kurangnya pengenalan mengenai batik Peranakan kepada masyarakat Indonesia sehingga batik Peranakan mulai ditinggalkan di era global ini. Selain memiliki batik yang dipengaruhi oleh budaya asing, Indonesia juga memiliki motif batik sendiri yang memiliki makna baik bagi pengantin, diantaranya adalah batik Truntum dan batik Grompol. Selain ragam hias motif batik, Indonesia juga memiliki warisan budaya berupa ragam hias bordir. Salah satu jenis bordir khas Indonesia yang perlu diungkap adalah bordir kerancang karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang bordir kerancang. Oleh sebab itu, perancangan ini membahas perancangan busana pengantin yang memadukan style modern dengan budaya Indonesia, yaitu motif batik Peranakan Tionghoa yang distilasi dengan batik Truntum dan Grompol, yang diterapkan melalui ragam hias bordir kerancang sebagai solusi terhadap isu yang ada. Perancangan ini dilakukan dengan metode kualitatif dimana narasumber sebagai data primer dikelompokkan menjadi dua yaitu expert panel dan extreme user. Data sekunder diperoleh dari buku literatur berupa buku, jurnal, artikel, website, dan media sosial lainnya. Tahapan perancangan menggunakan metode design thinking, yaitu teori VALS pada target market wanita experiencers dengan karakteristik menyukai tampil berbeda dan inovatif. Pada koleksi desain ini berupa busana pengantin dengan cutting yang simple dengan ciri khas bordir kerancang bermotif batik Peranakan. Tujuan koleksi ini adalah memperkenalkan dan meningkatkan minat generasi muda terhadap motif batik Peranakan Tionghoa dan bordir kerancang melalui koleksi wedding dress dengan nuansa modern dan dapat di kenakan oleh generasi muda. | en_US |
| dc.language.iso | id | en_US |
| dc.publisher | Universitas Ciputra | en_US |
| dc.subject | Tropical Wedding Dress | en_US |
| dc.subject | Kerancang Embroidery | en_US |
| dc.subject | Stylization | en_US |
| dc.subject | Peranakan Batik | en_US |
| dc.subject | Wedding Dress | en_US |
| dc.subject | Bordir Kerancang | en_US |
| dc.subject | Stilasi | en_US |
| dc.subject | Batik Peranakan | en_US |
| dc.title | Perancangan Busana Pengantin Bermotif Ragam Hias Batik Peranakan dengan Teknik Bordir Kerancang | en_US |
| dc.type | Thesis | en_US |
| dc.identifier.kodeprodi | 90241 | |
| dc.identifier.nim | 0206051810049 | |
| dc.identifier.dosenpembimbing | Soelistyowati | |
| dc.identifier.dosenpembimbing | Dewa Made Weda Githapradana | |