Perancangan Busana Pengantin Bermotif Ragam Hias Batik Peranakan dengan Teknik Bordir Kerancang
Abstract
Pernikahan merupakan salah satu fase terpenting dan dianggap sebagai kegiatan yang sakral dalam kehidupan. Sebagai suatu kegiatan yang sakral, maka calon pengantin melakukan berbagai persiapan dengan matang, salah satu hal yang paling krusial adalah busana pengantin. Pada busana pengantin, diperlukan ragam hias guna menambah nilai busana karena busana pengantin perlu dirancang lebih istimewa dibandingkan busana-busana umum lainnya. Ragam hias memiliki berbagai fungsi yaitu sebagai estetis, teknis konstruktif, dan juga simbolis. Seringkali, calon pengantin hanya menggunakan ragam hias berdasarkan nilai estetis saja, sedangkan makna atau simbolis dari ragam hias tersebut kurang diperhatikan. Hal ini dapat dilihat dari generasi muda Indonesia yang kurang mengenal budaya ragam hias Indonesia, sehingga corak budaya Indonesia jarang dikenakan sebagai ragam hias pada busana pengantin. Sedangkan, Indonesia memiliki berbagai motif ragam hias dengan makna dan filosifi yang baik bagi pernikahan, salah satunya batik Peranakan Tionghoa. Meskipun demikian, kerajinan batik Peranakan mulai luntur akibat masuknya budaya Barat dan kurangnya pengenalan mengenai batik Peranakan kepada masyarakat Indonesia sehingga batik Peranakan mulai ditinggalkan di era global ini. Selain memiliki batik yang dipengaruhi oleh budaya asing, Indonesia juga memiliki motif batik sendiri yang memiliki makna baik bagi pengantin, diantaranya adalah batik Truntum dan batik Grompol. Selain ragam hias motif batik, Indonesia juga memiliki warisan budaya berupa ragam hias bordir. Salah satu jenis bordir khas Indonesia yang perlu diungkap adalah bordir kerancang karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang bordir kerancang. Oleh sebab itu, perancangan ini membahas perancangan busana pengantin yang memadukan style modern dengan budaya Indonesia, yaitu motif batik Peranakan Tionghoa yang distilasi dengan batik Truntum dan Grompol, yang diterapkan melalui ragam hias bordir kerancang sebagai solusi terhadap isu yang ada. Perancangan ini dilakukan dengan metode kualitatif dimana narasumber sebagai data primer dikelompokkan menjadi dua yaitu expert panel dan extreme user. Data sekunder diperoleh dari buku literatur berupa buku, jurnal, artikel, website, dan media sosial lainnya. Tahapan perancangan menggunakan metode design thinking, yaitu teori VALS pada target market wanita experiencers dengan karakteristik menyukai tampil berbeda dan inovatif. Pada koleksi desain ini berupa busana pengantin dengan cutting yang simple dengan ciri khas bordir kerancang bermotif batik Peranakan. Tujuan koleksi ini adalah memperkenalkan dan meningkatkan minat generasi muda terhadap motif batik Peranakan Tionghoa dan bordir kerancang melalui koleksi wedding dress dengan nuansa modern dan dapat di kenakan oleh generasi muda.

