Tuberkulosis Milier dengan Komplikasi Meningitis Tuberkulosis: Integrasi Patofisiologi, Diagnostik, dan Pendekatan Klinis
Abstract
Tuberkulosis (TB) milier merupakan bentuk tuberkulosis diseminata yang terjadi akibat penyebaran hematogen Mycobacterium tuberculosis dan ditandai oleh keterlibatan multisistem dengan risiko tinggi komplikasi neurologis berupa meningitis tuberkulosis. Kondisi ini berhubungan erat dengan angka mortalitas dan morbiditas yang signifikan, terutama pada populasi anak, akibat keterlambatan diagnosis dan kompleksitas penatalaksanaan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif mekanisme patofisiologi, spektrum klinis, tantangan diagnostik, serta pendekatan terapeutik TB milier dengan komplikasi meningitis TB melalui pendekatan naratif terintegrasi. Penulisan artikel menggunakan analisis deskriptif berbasis laporan klinis yang dipadukan dengan telaah pustaka terkini dari buku ajar, pedoman nasional, dan publikasi internasional bereputasi. Fokus pembahasan meliputi mekanisme diseminasi limfohematogen pasca-infeksi primer, peran disregulasi respons imun inang, serta implikasi klinis keterlibatan sistem saraf pusat. Tantangan diagnostik utama dibahas, terutama terkait manifestasi klinis yang tidak spesifik dan keterbatasan sensitivitas pemeriksaan mikrobiologis konvensional. Pencitraan toraks dengan pola mikronodular difus serta analisis cairan serebrospinal menjadi pilar utama dalam menegakkan diagnosis. Penatalaksanaan menekankan penggunaan regimen obat anti-tuberkulosis jangka panjang yang dikombinasikan dengan kortikosteroid sebagai terapi ajuvan untuk menurunkan inflamasi neurologis. Artikel ini menyimpulkan bahwa keberhasilan luaran klinis sangat bergantung pada ketepatan diagnosis dini, pemantauan efek samping obat, dan kepatuhan terapi jangka panjang. Integrasi pemahaman patofisiologi dan pendekatan klinis yang komprehensif diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan klinisi dalam menghadapi varian tuberkulosis ekstra-paru yang berat.

