Implikasi Klinis Sepsis Neonatal terhadap Morbiditas dan Mortalitas Bayi Baru Lahir
Abstract
Malnutrisi energi protein (MEP) tipe kwashiorkor merupakan manifestasi klinis gizi buruk yang ditandai dengan edema bilateral, gangguan fungsi hepatik, dan dermatosis kompleks, yang secara epidemiologis masih menjadi penyebab utama mortalitas anak di negara berkembang. Artikel ini bertujuan untuk membedah secara mendalam patogenesis dan tatalaksana kwashiorkor melalui analisis kasus pada pasien balita perempuan yang mengalami edema anasarka, hipoalbuminemia ekstrem (2,1 g/dL), serta komplikasi infeksi ganda berupa gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Melalui pendekatan tinjauan klinis, ditemukan bahwa kegagalan adaptasi metabolik terhadap asupan karbohidrat yang dominan (air gula) tanpa asupan protein memicu kaskade kegagalan tekanan onkotik vaskular. Manajemen dilakukan secara komprehensif menggunakan protokol sepuluh langkah World Health Organization (WHO), yang mencakup fase stabilisasi dengan formula F-75 dan transisi ke F-100. Analisis ini menyoroti bahwa pemulihan kwashiorkor tidak hanya memerlukan refeeding kalori, tetapi juga koreksi mikronutrien spesifik untuk mengatasi stres oksidatif dan disfungsi sistem imun. Keberhasilan klinis pada kasus ini membuktikan bahwa intervensi yang presisi terhadap keseimbangan cairan dan elektrolit, dikombinasikan dengan terapi antibiotik spektrum luas, mampu menurunkan risiko refeeding syndrome dan memperbaiki prognosis jangka panjang pada pasien dengan malnutrisi edematosa.

