Dampak Klinis Anemia Defisiensi Besi terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan
Abstract
Anemia defisiensi besi merupakan bentuk anemia yang paling sering dijumpai pada bayi dan anak di seluruh dunia dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di negara berkembang. Kondisi ini terjadi akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan besi tubuh dengan asupan, absorpsi, atau cadangan besi, yang pada akhirnya menyebabkan gangguan sintesis hemoglobin. Pada periode pertumbuhan pesat, kekurangan besi tidak hanya berdampak pada status hematologis, tetapi juga berpengaruh terhadap perkembangan kognitif, motorik, dan imunitas anak. Manifestasi klinis anemia defisiensi besi sering kali tidak spesifik dan berkembang secara perlahan, sehingga diagnosis kerap terlambat ditegakkan. Artikel ini bertujuan untuk membahas secara komprehensif implikasi klinis anemia defisiensi besi pada anak berdasarkan laporan kasus dan telaah pustaka. Penulisan artikel dilakukan dengan metode deskriptif naratif melalui analisis laporan klinis yang dikombinasikan dengan literatur terkini mengenai epidemiologi, patofisiologi, diagnosis, dan tatalaksana anemia defisiensi besi pada anak. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa anemia defisiensi besi berhubungan erat dengan gangguan pertumbuhan, penurunan fungsi kognitif, serta peningkatan kerentanan terhadap infeksi. Diagnosis dini melalui evaluasi klinis dan pemeriksaan laboratorium yang tepat sangat penting untuk mencegah dampak jangka panjang yang bersifat irreversible. Penatalaksanaan yang adekuat melalui suplementasi besi dan intervensi nutrisi terbukti efektif dalam memperbaiki status hematologis dan luaran klinis. Kesimpulannya, anemia defisiensi besi pada anak memerlukan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap kualitas hidup anak.

