• Login
    View Item 
    •   DSpace Home
    • Library
    • Media
    • View Item
    •   DSpace Home
    • Library
    • Media
    • View Item
    JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

    Rujak Uleg Warisan Budaya Tak Benda

    Thumbnail
    View/Open
    Rujak Uleg Warisan Budaya Tak Bernda.docx (14.63Kb)
    Date
    2022-05-19
    Author
    Kartika, Chrisyandi Tri
    Metadata
    Show full item record
    Abstract
    SURABAYA - Surabaya memiliki banyak kuliner khas, salah satunya yakni rujak uleg atau rujak cingur. Pustakawan Sejarah Universitas Ciputra Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, asal usul rujak cingur menjadi makanan khas Surabaya banyak versi dan butuh perlu penulusuran yang valid. Menurut dia, sebetulnya rujak sama dengan salad, tapi yang membedakan pada bumbunya. "Kalau salad sejak zaman Belanda sudah ada. Namun bisa jadi seiring berkembangnya waktu orang Surabaya asli membuat salad diinovasi menjadi rujak dengan dicampur petis dan cingur menjadi rujak cingur," katanya. Kehadiran rujak cingur memang sudah lama ada di Surabaya. Bahkan menurutnya, orang Madura yang penjual rujak cingur juga sering mengaku rujak cingur merupakan asli Madura. "Kalau orang Madura yang jualan rujak cingur yang sudah lama banyak yang bilang itu dari Madura yang dibawa ke Surabaya,"ujarnya. Bahkan, rujak cingur sudah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda (WBTB) asal Surabaya. Sementara itu, versi keberadaan rujak cingur di Surabaya ada sejak zaman Belanda atau tepatnya di tahun 1930. Pegiat sejarah Nur Setiawan menuturkan, rujak uleg atau rujak cingur awal mula dibawa oleh para pendatang dari Madura. Karena Surabaya merupakan kota bisnis dan perdagangan sehingga peluang untuk bertahan hidup di kota Surabaya saat ini sangat besar. "Rujak cingur memang asli Surabaya. Saat itu pendatang dari Madura ingin bertahan hidup. Dan kemudian muncul ide untuk menjual rujak cingur. Sehingga nama rujak cingur melekat menjadi makanan khas Surabaya," tutur Nur. Untuk melestarikan kuliner khas Kota Pahlawan tersebut, Pemkot Surabaya memiliki acara tahunan, yakni Festival Rujak Uleg. Event ini pertama kali digelar tahun 2007 sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS). Setelah dua tahun vakum akibat pandemi, tahun ini acara tersebut akan kembali digelar. Yang berbeda, jika sebelum-sebelumnya acara ini dilaksanakan pada siang hari, kali ini acara tersebut akan digelar pada malam hari. (rmt/nur)
    URI
    https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9349
    Collections
    • Media

    Copyright©  2017 - LPPM & Library Of Universitas Ciputra
    »»» UC Town CitraLand, Surabaya - Indonesia 60219 «««
    Powered by : FreeBSD | DSpace | Atmire
     

     

    Browse

    All of DSpaceCommunities & CollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

    My Account

    Login

    Copyright©  2017 - LPPM & Library Of Universitas Ciputra
    »»» UC Town CitraLand, Surabaya - Indonesia 60219 «««
    Powered by : FreeBSD | DSpace | Atmire