Show simple item record

dc.contributor.authorSetyawan, Yuswanto
dc.date.accessioned2021-11-05T07:33:45Z
dc.date.available2021-11-05T07:33:45Z
dc.date.issued2021
dc.identifier.issn2337-5949
dc.identifier.urihttp://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/3792
dc.description.abstractLeukemia mieloid kronis (chronic myeloid leukemia/CML) adalah penyakit klonal dari sel induk hematopoietik, secara sitogenetik ditandai dengan adanya kromosom Philadelphia (t[9,22][q34;q11]), yang merupakan fusi BCR-ABL1 onkogen. Nilotinib, generasi kedua inhibitor kinase tirosin, merupakan turunan aminopirimidin yang menghambat aktivitas kinase tirosin protein BCR-ABL. Dengan aktivitas penghambatan yang 10-60 kali lebih besar daripada imatinib, pada terapi lini pertama standar untuk CML, nilotinib efektif untuk CML fase kronik dan akselerasi yang resisten terhadap imatinib, namun terapi kombinasi nilotinib dengan agen lainnya masih diperlukan untuk pasien dengan CML krisis blas. Nilotinib aktif terhadap beberapa mutan BCR-ABL yang resisten terhadap imatinib, kecuali mutan T315I. Mutasi spesifik E255K/V, Y253H/F, F359C/V, dan L248V umumnya kurang sensitif terhadap nilotinib. Sebagai terapi lini pertama pada pasien CML fase kronik dengan Ph+ yang baru terdiagnosis, nilotinib menunjukkan CCyR dan MMR yang lebih tinggi serta pengembangan menjadi fase akselerasi/krisis blas serta resiko kematian yang lebih rendah, bila dibandingkan dengan imatinib. Simpulan penelitian ini ialah nilotinib lebih unggul dibandingkan dengan imatinib sebagai terapi lini pertama pada pasien CML fase kronik dengan Ph+ yang baru terdiagnosis,en_US
dc.subjectchronic myeloid leukemia (CML)en_US
dc.subjectnilotiniben_US
dc.subjectimatiniben_US
dc.subjectterapi lini pertamaen_US
dc.titleNilotinib as the First Line Therapy in Managing Chronic Myelogenous Leukemiaen_US
dc.typeArticleen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record