| dc.description.abstract | Industri pariwisata dan perhotelan merupakan kontribusi tetap dalam pengembangan nasional, seperti yang dinyatakan dalam Laporan Forum Ekonomi Dunia tahun 2015, yang mengevaluasi 141 negara, termasuk Indonesia dan ASEAN, dengan Travel & Tourism Competitiveness Index (TTCI) dan explorasii sejauh mana sektor pariwisata dan perhotelan merespon keadaan ekonomi, keamanan, dan kesehatan dalam beberapa dekade terakhir. Berdasarkan TTCI, Indonesia menduduki peringkat ke-30, dan di tahun 2014 dikunjungi oleh 8,8 juta wisatawan internasional, yang dimungkinkan karena prioritas nasional dan investasi keberlanjutan dalam infrastruktur. Keunggulan kompetitif utama daya saing Indonesia adalah harga dan sumber daya alam yang kaya, termasuk keanekaragaman hayati dan bebrapa situs warisan. Namun, perihal ketahanan lingkungan belum diperhatikan dengan seksama di Indonesia, terutama dalam hal pembabatan hutan dan pengelolaan air limbah. Selain itu, keselamatan dan keamanan juga memprihatinkan, khususnya terorisme. Manajemen rantai pasokan pariwisata “hijau” yang lebih menitikberatkan pada manajemen bencana di dalam masyarakat berkelanjutan akan menciptakan ketahanan masyarakat berupa kesejahteraan manusia, lingkungan dan ekonomi. Daya saing sector pariwisata dan perhotelan berkaitan erat dengan tiga aspek tersebut. Artikel ini didasarkan pada Forum Ekonomi Dunia tahun 2015, statistic pariwisata seperti kedatangan wisatawan, termasuk indikator pariwisata lainnya atau rasio pembangunan: juga stratistik lingkungan dan sosial – ekonomi. Tujuan artikel ini adalah menunjukkan bahwa konsep pembangunan berkeanjutan dan daya saing saling berhubungan dan perlu didukung oleh pemangku kepentingan di sector pariwisata. | en_US |