| dc.description.abstract | Kehamilan merupakan kondisi fisiologis yang disertai perubahan anatomis dan fisiologis signifikan pada hampir seluruh sistem organ tubuh ibu, terutama sistem kardiovaskular, respirasi, ginjal, dan gastrointestinal. Perubahan ini memiliki implikasi penting terhadap perencanaan dan pelaksanaan anestesi pada ibu hamil yang memerlukan tindakan pembedahan non-obstetrik. Sekitar 0,75–2% ibu hamil menjalani operasi non-obstetrik selama masa kehamilan, baik dalam kondisi elektif, mendesak, maupun darurat. Tantangan utama dalam manajemen anestesi pada kondisi ini adalah menjamin keselamatan ibu sekaligus mempertahankan kesejahteraan janin dengan meminimalkan risiko gangguan perfusi uteroplasenta, hipoksia, hipotensi, serta persalinan prematur. Artikel ini bertujuan untuk mengulas secara komprehensif prinsip anestesi pada operasi non-obstetrik selama kehamilan, meliputi perubahan fisiologi maternal, indikasi dan waktu pembedahan, pilihan teknik anestesi, serta strategi manajemen perioperatif yang aman. Penulisan artikel dilakukan menggunakan metode tinjauan pustaka naratif terhadap publikasi ilmiah lima tahun terakhir yang relevan dengan topik anestesi pada kehamilan. Hasil telaah menunjukkan bahwa baik anestesi umum maupun anestesi regional dapat digunakan secara aman selama kehamilan apabila dilakukan dengan perencanaan yang matang, pemantauan ketat, dan pendekatan multidisipliner. Anestesi regional sering kali lebih diunggulkan karena dapat mengurangi paparan obat sistemik pada janin dan menghindari manipulasi jalan napas maternal. Pemeliharaan stabilitas hemodinamik maternal, oksigenasi yang adekuat, serta pencegahan hipotensi dan hipoksia merupakan faktor kunci dalam menjaga perfusi uteroplasenta. Dengan penerapan prinsip anestesi yang tepat dan berbasis bukti, operasi non-obstetrik pada ibu hamil dapat dilakukan dengan tingkat risiko minimal bagi ibu dan janin. | en_US |