| dc.description.abstract | Gout merupakan salah satu bentuk artritis inflamasi yang paling sering dijumpai dan berkaitan erat dengan hiperurisemia sebagai dasar patofisiologinya. Kondisi ini terjadi akibat deposisi kristal monosodium urat pada jaringan sendi dan periartikular, yang memicu respons inflamasi akut maupun kronik. Prevalensi gout terus meningkat secara global seiring perubahan pola hidup, peningkatan usia harapan hidup, serta tingginya angka penyakit metabolik dan kardiovaskular. Meskipun manifestasi klinis gout artritis akut sering bersifat khas, tantangan dalam praktik klinis masih mencakup keterlambatan diagnosis, interpretasi laboratorium yang kurang tepat, serta pengelolaan hiperurisemia jangka panjang yang belum optimal. Artikel ini membahas secara komprehensif keterkaitan antara mekanisme patofisiologi, pendekatan diagnosis, dan strategi tata laksana gout artritis akut serta hiperurisemia. Pembahasan mencakup proses metabolisme asam urat, mekanisme inflamasi akibat kristal monosodium urat, spektrum manifestasi klinis, serta peran pemeriksaan penunjang dalam menegakkan diagnosis. Selain itu, prinsip tata laksana serangan akut dan pengelolaan hiperurisemia jangka panjang dibahas secara terintegrasi, dengan penekanan pada pemilihan terapi berbasis bukti dan individualisasi pengobatan. Perubahan gaya hidup sebagai bagian dari strategi nonfarmakologis juga dikaji mengingat perannya dalam menurunkan risiko kekambuhan dan komplikasi. Integrasi pemahaman patofisiologi dengan pendekatan klinis yang tepat diharapkan dapat meningkatkan akurasi diagnosis, efektivitas terapi, serta luaran jangka panjang pada gout, sehingga penyakit ini tidak hanya dipandang sebagai serangan artritis episodik, tetapi sebagai kondisi kronik yang memerlukan penatalaksanaan berkesinambungan. | en_US |