Show simple item record

dc.contributor.authorLukito Setiawan, Jenny
dc.date.accessioned2013-05-16T03:27:30Z
dc.date.available2013-05-16T03:27:30Z
dc.date.issued2009-11
dc.identifier.citationSetiawan, J. L. (2009). Pro-kotra euthanasia di kalangan pemuka agama. In Proceeding: towards the health of maind, body, and soul and workshop souldrama (pp. 065-069). Retrieved from http://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/123
dc.identifier.urihttp://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/123
dc.description.abstractPemuka agama dalam layanannya terhadap umat seringkali harus berhadapan dengan situasi umat yang sakit berkepanjangan, seperti halnya pada pasien penyakit terminal. Adanya kemajuan teknologi di bidang kedokteran membuat laju proses kematian dapat ditekan dan pasien memperoleh harapan hidup yang lebih panjang. Namun demikian alat-alat maupun mesin penunjang hidup tersebut tidak menjamin kesembukan. Peralatan tersebut menuntut biaya yang tidak sedikit yang menjadi beban tersendiri bagi pasien ataupun keluarganya. Hal ini menjadi kondisi yang delematis bagi pasien dan keluarganya. Situasi ini juga dihadapi oleh pemuka agama, karena mereka sering kali mendampingi pasien dalam masa-masa sulit ini dan menjadi tempat bertanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan dan sikap terhadap euthanasia di kalangan pemuka agama serta hal-hal yang melatar belakangi. Pendekatan kuantitatif maupun kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk meningkatkan keluasan maupun kedalaman penelitian. Sehubungan dengan hal itu ada 30 pemuka agama dari berbagai latar belakang agama berpartisipasi dalam mengisi angket sikap terhadap euthanasia, dan ada 5 pemuka agama dari berbagai latar belakang agama yang mengikuti interviu. Analisis terhadap data kuantitatif menunjukkan bahwa 73,3% responden tidak setuju dan sangat tidak setuju terhadap euthanasia, 23,3% responen menunjukkan sikap ragu-ragu, dan 3,3% responden bersikap setuju. Hasil analisis data kualitatif menunjukkan bahwa ketidaksetujuan informan sangat di pengaruhi oleh pandangan bahwa kehidupan dan kematian adalah hal Tuhan dan di bawah kedaulatan Tuhan. Kehidupan adalah anugrah dan karunia Tuhan. Sikap ragu-ragu pada informan lebih dikarenakan adanya dilema antara agama dan realitas. Di satu sisi agama mengajarkan hal-hal yang ideal, namun di sisi lain pasien maupun keluarganya dihadapkan pada relitas misalnya biaya dan penderitaan yang tidak kunjung selesai. Hasil yang lebih rinci dan analisis yang lebih lanjut akan diuraikan dalam artikel ini guna memberikan rekomendasi terkait dengan upaya layanan kemanusiaan yang lebih baiken_US
dc.publisherProceedings Temu Ilmiah Nasional: The Workshop Souldrama - 16-18 Nop 2009 - Balaiurang Universitas Kristen Satya Wacanaen_US
dc.subjectEuthanasia, Religi, Pemuka Agamaen_US
dc.titlePro-Kontra Euthanasia di Kalangan Pemuka Agamaen_US
dc.typeArticleen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record