| dc.description.abstract | Industri televisi lokal di Jawa Timur tampaknya masih menjadi ladang bisnis yang
menggiurkan. Apalagi dukungan Undang Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang
penyiaran, yang membawa angin segar pertumbuhan tv lokal, baik dari perspektif isi
atau konten (diversity of content) serta kepemilikan (diversity of ownership). Saat ini
ada 46 lembaga penyiaran televisi swasta di Jawa Timur, dan 10 diantaranya adalah
televisi swasta lokal yang bersiaran di kota Surabaya. Satu diantara televisi lokal
tersebut adalah TV 9.Sebagai bagian dari media massa, TV 9 dalam kiprah siarannya
memiliki fungsi bukan hanya sebagai medium pengawasan (surveillance), dan
hiburan (entertainment), namun juga sebagai medium yang memiliki fungsi
memberikan informasi (to inform) dan mendidik (to educate) yakni
mengkomunikasikan nilai-nilai, dan norma-norma budaya budaya dari satu generasi
ke generasi berikutnya. Fungsi ini sejalan dengan visi TV 9 yang memiliki karakter
santun dan menyejukkan. Strategi apa dan bagaimana upaya yang dilakukan
manajemen TV 9 agar mampu mempertahankan budaya lokal, di tengah persaingan
bisnis industri televisi yang semakin tajam? Pertanyaan ini akan dijawab melalui
penelitian deskripsi kualitatif dari perspektif manajemen penyiaran. Menurut Willis
dan Aldridge ada empat pilar yang harus diperhatikan dalam manajemen penyiaran,
yakni tehnik, program, marketing dan administrasi. Dari hasil penelitian ini, dapat
disimpulkan bahwa manajemen TV 9 terus berupaya meningkatkan sinergi antara
tehnik, program, marketing dengan lebih mengkedepankan program siaran berbasis
budaya lokal. | en_US |