| dc.description.abstract | Pada hakikatnya, setiap orang di dunia tanpa memandang ras, suku, agama dan gender berhak untuk mendapatkan keadilan melalui Hak Asasi Manusia (HAM). Tetapi hingga saat ini, masih ditemukan kasus-kasus diskriminasi, yang salah satunya adalah diskriminasi gender. Maka dari itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berupaya agar pada tahun 2030 kesetaraan gender dapat dicapai melalui Sustainable Development Goals nomor 5 yaitu Gender Equality: Achieve Gender Equality and Empower All Women and Girls. Film “Samjin Company English Class” adalah film yang menggambarkan realita sosial di Korea Selatan, yang salah satunya adalah diskriminasi gender. Film ini menceritakan tiga orang pekerja perempuan di sebuah perusahaan elektronik yang memperoleh ketidakadilan di perusahaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami bentuk-bentuk diskriminasi gender yang direpresentasikan dalam film tersebut hingga tahap mitos. Penelitian ini adalah penelitian kuasi-kualitatif deskriptif. Penelitian kuasi-kualitatif ini lebih menekankan pada pembuktian temuan dengan teori dan tidak membuat teori baru. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode milik Roland Barthes. Dalam metode Semiotika Roland Barthes terdapat dua tahap pemaknaan yaitu tahap denotasi dan konotasi, yang nantinya akan memunculkan sebuah mitos. Penemuan penelitian berupa mitos dari bentuk-bentuk diskriminasi gender seperti marjinalisasi perempuan yang terjadi di dunia pekerjaan, subordinasi yaitu penomorduaan terhadap perempuan, stereotipe negatif atau berbagai stigma yang merugikan perempuan, beban ganda yaitu beban berlebih yang diterima oleh perempuan, standar ganda atau perbedaan standar yang merugikan perempuan, hingga kekerasan sebagai segala bentuk kekerasan yang diterima perempuan. Terlebih lagi, adanya bentuk diskriminasi gender yang muncul di masyarakat Korea Selatan khususnya dalam lingkup pekerjaan dipengaruhi oleh kuatnya budaya Konfusianisme dan patriarki. | en_US |