STUDI KELAYAKAN CAPTIVE BREEDING SYSTEM SARANG BURUNG WALET di LIN BIRD'S NEST BANGKALAN MADURA
Abstract
Perkembangan industri sarang walet yang pesat menarik minat banyak investor, hal ini dibuktikan dengan bertambahnya rumah walet di Indonesia setiap tahunnya. Menjamurnya rumah walet di Indonesia, ternyata tidak didukung dengan ketersediaan sumber makanan bagi burung walet, karena alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman penduduk dan industri. Hilangnya sumber makanan mendorong burung walet untuk bermigrasi ketempat yang lebih baik.
Akibat perubahan lingkungan juga dialami oleh perusahaan Lin Bird’s Nest, dan berdampak pada penurunan produksi sarang walet. Solusi yang diambil oleh perusahaan adalah menerapkan Captive Breeding System. Peneliti melakukan kajian penelitian untuk mengetahui kelayakan Captive Breeding System di perusahaan Lin Bird’s Nest. Data yang diperoleh berasal dari literatur, observasi di lapangan dan wawancara.
Penelitian ini terbatas pada aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis, aspek hukum, aspek manajemen dan aspek keuangan. Pada aspek pasar peneliti melakukan pengkajian pada SWOT, STP dan Five Force Analysis. Hasil analisis SWOT perusahaan berada pada kuadran II dengan target pasar perusahaan di Surabaya. Pada aspek hukum, perusahaan bertumpu pada pedoman pemanfaatan sarang walet yang diatur dalam Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan nomor: 449/Kpts- II/1999. Aspek teknis perusahaan telah mampu mendeskripsikan SOP sebagai pedoman kerja dan memenuhi kebutuhan investasi peralatan sehingga layak untuk dijalankan. Aspek manajemen, perusahaan telah mendeskripsikan kebutuhan tenaga kerja dan kemampuan untuk membayar upah sesuai dengan UMR kabupaten Bangkalan sehingga pengembangan usaha layak untuk dijalankan. Pada aspek keuangan, menggunakan analisis skenario yang terbagi menjadi kondisi normal, pesimis dan optimis. Penilaian keuangan didasarkan pada PI, NPV, IRR, dan PP. Hasil analisa menujukkan bahwa pada kondisi normal dan optimis perusahaan layak untuk dijalankan karena memenuhi ketentuan PI, NPV, IRR, dan PP tetapi pada kondisi pesimis tidak layak untuk dijalankan.
