REPRESENTASI PEREMPUAN LAJANG DALAM SERIAL DRAMA KOREA "THIRTHY - NINE" (2021)
Abstract
Budaya pernikahan dari zaman ke zaman dianggap sebagai kewajiban bagi perempuan, namun pada zaman modern ini, dampak globalisasi dan juga berbagai pandangan dari masyarakat yang semakin terbuka menyebabkan beberapa perempuan mulai memutuskan untuk melajang dikarenakan berbagai alasan tertentu seperti trauma dengan hubungan sebelumnya, ingin fokus berkarir, menikmati kehidupan sendiri secara bebas, menghindari hubungan yang bersifat patriarki atau hanya sekedar belum menemukan jodoh yang sesuai. Fenomena perempuan lajang mulai menjadi fenomena sosial yang seringkali disorot khususnya dalam bidang media massa film. Tema perempuan lajang telah diangkat dalam berbagai serial drama/film dan biasanya bersinggungan dengan genre slice of life. Film yang mengangkat tema ini seringkali menunjukkan beberapa kejadian nyata yang terjadi dalam masyarakat terkait stigma dan stereotipe yang diterima perempuan lajang dan juga penggambaran dari apa yang dihadapi dalam kehidupan sehari-harinya. Salah satu film yang mengangkat tema perempuan lajang ini adalah THIRTY-NINE (2021). Setelah melakukan analisa menggunakan semiotika Roland Barthes, peneliti menarik simpulan bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh yang besar dalam kesejahteraan hidup wanita lajang dan menyebabkan mereka tidak merasakan kesepian secara sosial. Tetapi wanita lajang masih merasakan kesepian secara emosional dan juga emosi negatif yang merupakan pengaruh dari tidak adanya sosok pasangan hidup yang sebenarnya mempunyai pengaruh yang besar dalam memberikan dampak positif dalam kualitas hidup seorang wanita. Perasaan negatif yang mereka rasakan tersebut juga disebabkan oleh tuntutan untuk menikah dari keluarga dan teman terdekat mereka.

