Feminisme Gelombang Ketiga dalam Video Klip Korean Pop (Analisis Semiotika pada Video Klip Moonbyul MAMAMOO Berjudul “Eclipse”)
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji feminisme gelombang ketiga dalam video klip Korean Pop berjudul “Eclipse” yang dibawakan oleh Moonbyul MAMAMOO. Salah satu budaya populer yang dengan sukses mendunia adalah Korean Wave dengan salah satu produknya adalah Korean Pop memiliki indeks popularitas cukup stabil di kategori sangat populer. Sebagai sebuah industri yang populer, Korean Pop tidak terlepas dari stereotipe atas gender. Moonbyul MAMAMOO adalah salah satu idol yang mendobrak stereotipe terhadap perempuan dan mengekspresikannya melalui video klip. Rumusan masalah yang dikaji penelitian ini adalah bagaimana analisis semiotika terkait feminisme gelombang ketiga pada video klip Moonbyul MAMAMOO yang berjudul “Eclipse”. Penelitian ini bertujuan menjabarkan isi dan melakukan analisis terkait feminisme gelombang ketiga pada video klip tersebut. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan paradigma kritis dan berdasarkan pada data yang diperoleh dengan metode studi teks terhadap video klip sebagai teks media. Analisis terhadap data dilakukan dengan metode semiotika berdasarkan teori semiotika menurut Roland Barthes. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya unsur-unsur yang mengandung pandangan feminisme gelombang ketiga dalam video klip Moonbyul MAMAMOO yang berjudul “Eclipse”. Pandangan tersebut ditemukan pada elemen-elemen audio dan visual seperti pada pemilihan kostum, penggunaan tata rias, pembawaan koreografi, pengambilan gambar dengan kamera, lirik lagu yang dibawakan, konsep atau alur video klip, dan adegan yang ditampilkan, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Temuan temuan dari analisis tersebut diperoleh dan kemudian dikaji sebagai penggambaran sisi maskulin dan feminin pada perempuan, kepemilikkan peran publik dan domestik pada perempuan, ketidaksetujuan atas stereotipe terhadap perempuan, serta perwujudan perempuan dalam media. Terlebih lagi, pandangan feminisme gelombang ketiga tersebut berada di tengah-tengah masyarakat Korea Selatan yang masih kental budaya patriarkinya.

