REPRESENTASI PERAN AYAH DALAM FILM "I CAN ONLY IMAGINE"
Abstract
Film “I Can Only Imagine” adalah film yang diangkat dari kisah nyata Bart Millard dengan ayahnya yang kemudian menjadi orang tua tunggal. Terdapat pandangan bahwa ayah adalah sosok yang tidak lebih baik dalam berperan sebagai orang tua dibandingkan dengan ibu. Tujuan penelitian ini untuk menunjukan bagaimana representasi peran ayah dalam film “I Can Only Imagine”. Metode yang digunakan adalah penelitian semiotika milik Roland Barthes serta menggunakan unsur penanda milik Arthur Asa Berger sebagai panduan dan dimaknai secara kritis. Penelitian ini berfokus pada bentuk representasi sosok ayah dalam film yang bernama Arthur Millard serta peran ayah yang beralih dari pria beristri ke pria dengan status single parent. Hasil penelitian ini mengungkapkan reperesentasi peran ayah dalam film berdasarkan lima kategori temuan utama. Pertama, representasi peran ayah ditunjukan dengan kesehatan mental ayah tidak stabil yang mana ayah juga dapat berada di kondisi lemah. Kedua, ayah direpresentasikan bersikap berlebihan dalam mengawasi anak sehingga pengawasan tersebut berjalan dengan kurang efektif. Ketiga adalah peran pendisiplinan yang dilakukan ayah dalam film direpresentasikan secara kurang benar karena ayah kekurangan informasi dalam mendidik dan segala yang berkaitan dengan anaknya. Keempat adalah ayah berperan sebagai pengasuh dan yang kelima adalah ayah menjadi motivator bagi anak. Kelima temuan tersebut jika ditarik secara garis besar maka ditemukan bahwa peran ayah yang tidak dapat ditebak dalam film direpresentasikan dengan baik. Karakter ayah dimunculkan lebih dominan menjalankan tugas sebagai ayah pada umumnya seperti pendisiplin dan pemenuh kebutuhan namun juga dapat menjalankan menjalankan peran ganda lainnya. Hal tersebut dicerminkan melalui tindakan dan perkataan ayah dalam berinteraksi yang terlihat keras namun di baliknya terdapat emosi kesedihan di baliknya. Ayah pada awalnya memimpin keluarga menggunakan budaya patriarki yang mana meletakan posisi diri lebih dalam berbagai hal daripada istri dan anak terutama dalam mengungkapkan pendapat dan mengambil keputusan. Peran ayah awalnya digambarkan selalu dilibatkan dan seakan harus selalu dituruti di dalam segala keputusan keluarga namun seiringnya berjalannya waktu, ayah ditampilkan dapat menjalankan peran pengasuhan dan pemberi motivasi bagi anak.

