| dc.contributor.author | Rossafine, Tasya Devi | |
| dc.date.accessioned | 2026-04-27T17:21:01Z | |
| dc.date.available | 2026-04-27T17:21:01Z | |
| dc.date.issued | 2022 | |
| dc.identifier.uri | https://dspace.uc.ac.id/handle/123456789/9368 | |
| dc.description | Indonesia is one of a democratic country with 270,6 million population. There are a lot of differences ranging from ethnicity, race, language even religion. In the midst of differences, conflicts between religious communities often occur due to various reasons. Taken a real example in Indonesia, there was a mass riot in Tanjubalai, North Sumatera, where six temples and three monasteries were burned and damaged by the residents. One of the strategies to reduce and prevent interreligious conflicts is that a church in West Surabaya annually holds a program called Pilgrimage. This program emphasizes and approaches where participants will learn and explore the uniqueness of groups and individuals from other religions. To be able to socialize with other religion, the concept of interreligious and cultural communication has been applied to this program. Therefore, this study was conducted to find out deeper on how interreligious communication occurs in the Pilgrimage Program that was held by GKI Citraland. This research is qualitative research which uses interviews and documentation as the data collection methods. The result of this research is that the Pilgrimage Program of GKI Citraland Surabaya has not yet effectively implanted interreligious dialogue. The interreligious dialogue carried out in the Pilgrimage Program is still very interactive, but has not carried out a sustainable interreligious dialogue. But in the terms of tolerance, the Pilgrimage Program has shown good tolerance between different religions. | en_US |
| dc.description.abstract | Indonesia merupakan negara demokratis dengan jumlah penduduk mencapai 270,6 juta. Begitu banyak perbedaan mulai dari suku, ras, bahasa hingga agama. Dalam kehidupan di tengah-tengah perbedaan sering terjadi konflik antarumat beragama yang disebabkan oleh berbagai alasan. Contoh konkrit bisa kita lihat di Indonesia seperti terjadinya kerusuhan massa di Tanjubalai, Sumatera Utara, di mana enam kelenteng dan tiga vihara dibakar dan dirusak oleh warga setempat. Salah satu strategi untuk mengurangi dan mencegah adanya konflik antaragama, ada sebuah gereja di Surabaya Barat yang tiap tahunnya mengadakan program Pilgrimage. Program Pilgrimage menekankan sebuah pendekatan di mana peserta yang ikut akan belajar dan menggali keunikan dari kelompok maupun individu dari agama lain. Agar dapat melakukan sosialisasi dengan agama lain, pola komunikasi antaragama dan budaya telah diaplikasikan kedalam program ini. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana terjadinya komunikasi lintas agama dalam program Pilgrimage GKI Citraland. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pengumpulan data yaitu wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah program Pilgrimage GKI Citraland Surabaya masih belum secara efektif menjalankan dialog lintas agama. Dialog Lintas agama yang dijalankan dalam Program Pilgrimage masih bersifat interaksi sekali, melainkan belum melakukan dialog lintas agama yang berkelanjutan. Tetapi secara aspek toleransi, Program Pilgrimage sudah dapat menunjukkan sikap toleransi yang baik antarbeda agama. | en_US |
| dc.language.iso | id | en_US |
| dc.publisher | Universitas Ciputra | en_US |
| dc.subject | Komunikasi Lintas Budaya | en_US |
| dc.subject | komunikasi Lintas Agama | en_US |
| dc.subject | Interreligious Dialogue | en_US |
| dc.subject | Penelitian Kualitatif | en_US |
| dc.subject | Intercultural Communication | en_US |
| dc.subject | Interreligious Communication | en_US |
| dc.subject | Qualitative Research | en_US |
| dc.title | Komunikasi Lintas Agama dalam Program Pilgrimage GKI Citraland Surabaya | en_US |
| dc.type | Thesis | en_US |
| dc.identifier.kodeprodi | 70201 | |
| dc.identifier.dosenpembimbing | Ismojo Herdono | |